Iklan

Ramadhan yang Tenang, Idul Fitri yang Gemerlap

syamsul kurniawan
Saturday, March 29, 2025
Last Updated 2025-03-30T02:45:49Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Oleh: Syamsul Kurniawan


Ramadhan adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan keheningan. Pada malam-malamnya yang syahdu, doa-doa naik kepada langit, menghantar harapan yang menggantung di hati setiap insan. Setiap tarawih, setiap dzikir, adalah langkah menuju ketenangan, meninggalkan dunia yang bising dan penuh dengan kecemasan. Dalam keheningan itu, umat merasakan kedekatan dengan Tuhan, meresapi makna kehidupan yang seringkali terlewatkan dalam kesibukan dunia. Seperti tirai yang perlahan ditarik, Ramadhan mengundang kita untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda, untuk menghargai waktu yang ada, dan untuk memperbaiki diri.


Namun, semua itu hanyalah sebuah kenangan yang akan menghilang, seiring datangnya Idul Fitri. Sorak sorai yang menggema, lampu-lampu berkelap-kelip, dan suara takbir yang memenuhi udara. Idul Fitri, hari kemenangan yang selalu dijanjikan sebagai puncak dari pengorbanan sebulan penuh, tiba dengan segala kegemilangannya. Tetapi, apakah kita benar-benar merasakan kemenangan itu, ataukah kita hanya terjebak dalam rutinitas perayaan yang telah terbungkus dalam simbol-simbol yang tampaknya lebih penting daripada makna yang terkandung di dalamnya? Apakah kegembiraan itu benar-benar murni, ataukah itu hanya sekadar citra yang kita ciptakan untuk diri sendiri, untuk memenuhi ekspektasi dunia yang terbalut dalam realitas yang semakin terdistorsi?


Ramadhan membawa kedamaian yang menyelimuti setiap malam. Saat berbuka puasa, ada rasa syukur yang mendalam atas nikmat yang diberikan Tuhan. Setiap butir makanan yang disuapkan terasa begitu berarti, begitu penuh arti, karena kita tahu betapa sulitnya menahan lapar dan haus sepanjang hari. Tetapi, keheningan ini—yang terkadang hadir dalam bentuk kesendirian—berubah menjadi gegap gempita saat Idul Fitri datang. Hari kemenangan seolah menjadi sebuah parade kegembiraan yang penuh dengan tawa dan keriuhan. Pakaian baru, makanan berlimpah, dan kebersamaan dengan keluarga menjadi tanda bahwa kemenangan telah tercapai.


Namun, apakah kebahagiaan ini sejati? Ketika di luar sana, banyak mereka yang tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Ketika dunia menyajikan gambar kebahagiaan yang sempurna di media sosial, apakah kita benar-benar merayakan dengan hati yang penuh makna? Di tengah sorak sorai, di dalam keramaian, ada ruang yang tak terisi, kekosongan yang tidak terucap, dan perasaan yang kadang terlupakan. Dalam kegembiraan itu, kita sering kali lupa bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari dalam, bukan dari apa yang kita tampilkan di luar.


Antara Kegembiraan dan Kehilangan


Bagi mereka yang memiliki keluarga lengkap, Idul Fitri adalah saat yang penuh dengan kebahagiaan. Anak-anak mengenakan baju baru, ayah dan ibu berbagi tawa, dan seisi rumah dipenuhi dengan makanan yang menggoda. Namun, bagi sebagian lainnya, kegembiraan itu adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan. Anak-anak yatim piatu, orang-orang yang telah kehilangan suami atau istri, mereka yang merayakan Idul Fitri dengan hati yang penuh dengan luka. Tidak ada lagi tawa yang menggema, hanya ada hening yang semakin mendalam.


Saat melihat mereka yang penuh sukacita, sering kali kita tidak bisa menahan air mata, menyadari bahwa kebahagiaan itu begitu rapuh. Kita merasa kehilangan, dan meskipun tak ada yang mengatakannya, kita tahu bahwa mereka yang merayakan dengan penuh luka ini menyimpan duka yang dalam. Idul Fitri bukan sekadar soal pakaian baru atau hidangan lezat. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah tentang bagaimana kita menyikapi kehilangan yang kita rasakan, bagaimana kita menerima ketidaksempurnaan dalam hidup ini, dan bagaimana kita bisa tetap mencari kedamaian meski hati terasa hampa.


Pada pagi Idul Fitri, banyak yang melakukan ziarah ke makam keluarga yang telah meninggal. Ziarah ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga cara kita untuk mengingat bahwa kehidupan ini fana. Di makam, kita berdiri di depan batu nisan, mendoakan mereka yang telah pergi, dan dalam diam, kita merasakan kedalaman perasaan yang tak terungkapkan. Dalam kesunyian itu, ada pengingat yang tajam: bahwa waktu tidak akan pernah kembali. Setiap langkah yang kita ambil di dunia ini akan menuju akhir yang tak terhindarkan, dan hanya kenangan yang akan bertahan. Terkadang, saat berdiri di depan makam, kita merasa sangat kecil. Betapa rapuhnya hidup ini, betapa kita sering terjebak dalam kesibukan dan lupa untuk menghargai momen yang ada.


Kehilangan terasa begitu nyata di saat seperti ini. Ketika kita menyapa mereka yang telah tiada, kita tidak bisa menahan perasaan haru yang datang. Ada tanya dalam hati, apakah mereka bisa merasakan betapa kita merindukan mereka? Apakah mereka mendengar doa-doa yang kita lantunkan? Kepergian mereka meninggalkan ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapapun. Idul Fitri adalah pengingat bahwa kita semua akan tiba pada akhirnya. Kehilangan adalah bagian dari perjalanan yang harus kita jalani.


Geertz, dalam Islam Observed (1971), mengungkapkan bahwa agama adalah sistem simbol yang membentuk realitas sosial dan spiritual. Namun, dalam kenyataannya, simbol-simbol agama sering kali terdistorsi oleh kehidupan modern. Ramadhan dan Idul Fitri, yang seharusnya menjadi momen untuk memperbaharui hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, sering kali terjebak dalam simbolisme yang kosong. Pakaian baru, makanan enak, dan kebersamaan keluarga yang tampak sempurna menjadi citra yang lebih penting daripada makna sesungguhnya. Ini adalah dunia yang dipenuhi dengan gambar-gambar yang diciptakan oleh media, sebuah dunia yang semakin jauh dari esensi sejati dari perayaan ini.


Pada Idul Fitri, kita seharusnya merayakan kemenangan atas hawa nafsu, tetapi terkadang kita malah merayakan citra kemenangan yang dibentuk oleh media. Setiap foto yang diunggah di media sosial menjadi bagian dari pertunjukan sosial yang dipentaskan untuk dunia. Kita seakan-akan lupa bahwa perayaan sejati adalah ketika kita bisa menyentuh hati orang lain, memberi dan menerima dengan tulus, tanpa perlu menunggu pengakuan dari luar. Tapi, dalam hiruk-pikuk kehidupan, kita sering kali terjebak dalam pencitraan. Kita lupa bahwa sesungguhnya, kebahagiaan itu ada dalam kesederhanaan, dalam berbagi dengan tulus, dan dalam menerima segala kekurangan kita.


Idul Fitri membawa sukacita, tetapi bagi sebagian orang, keramaian itu justru membawa kesendirian yang semakin dalam. Mereka yang tidak memiliki keluarga atau yang harus merayakan dengan kesepian sering kali merasa asing dalam keramaian ini. Pakaian baru terasa berat, dan makanan yang melimpah tidak mampu mengisi kekosongan yang ada dalam hati. Mereka merayakan dengan hati yang hampa, dengan kenangan yang menyakitkan.


Namun, di balik kesendirian itu, ada harapan. Harapan bahwa setiap Ramadhan membawa kesempatan untuk memperbaharui diri, untuk menjadi lebih baik, dan untuk meraih kedamaian. Harapan bahwa setiap permohonan maaf yang diucapkan pada Idul Fitri akan membuka pintu pengampunan, dan bahwa setiap doa yang dipanjatkan akan membawa kedamaian dalam jiwa yang terluka.


Bandul Jangan Terlalu Menjauh


Geertz (1971) mengatakan bahwa agama, dalam hal ini Islam, adalah sistem simbol yang membantu kita memahami dunia sosial kita. Namun, dalam dunia yang semakin terhubung dan terbuai oleh citra-citra yang diciptakan oleh media, kita sering kali lupa bahwa Islam mengajarkan kita untuk lebih dari sekadar simbol. Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kasih sayang, untuk saling memaafkan, dan untuk memperbaharui hubungan dengan sesama. Idul Fitri bukan hanya soal diri kita sendiri, tetapi tentang bagaimana kita menjaga hubungan dengan orang lain, bagaimana kita memberi, dan bagaimana kita menerima.


Terkadang, kita terjebak dalam pencarian kebahagiaan yang tampak luar biasa—dalam pakaian baru, makanan mewah, atau kebersamaan keluarga yang sempurna. Namun, kebahagiaan yang sejati datang ketika kita menemukan kedamaian dalam diri kita sendiri, ketika kita mampu menerima kenyataan hidup dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Setelah bulan Ramadhan berlalu, kita sering kali kembali pada rutinitas kita yang lama. Namun, apakah kita benar-benar membawa semangat dan pembaruan yang kita rasakan selama Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih penuh kasih sayang, dan lebih pemaaf? Ataukah kita hanya sekadar mengikuti rutinitas, tanpa benar-benar meresapi makna dari perjalanan spiritual ini?


Idul Fitri adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita telah merayakan kemenangan yang sejati, kemenangan atas diri kita sendiri, atas kesalahan dan kekurangan kita? Ataukah kita hanya merayakan kemenangan yang terlihat di luar, tanpa memperbaiki apa yang ada di dalam?


Di balik senyap Ramadhan yang penuh doa dan harapan, Idul Fitri datang dengan sorak sorai yang menggembirakan. Namun, kita harus ingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang terlihat oleh dunia, tetapi pada kedamaian yang kita temukan dalam hati kita sendiri. Dalam momen ini, mari kita refleksikan kembali makna sejati dari pengampunan, kebersamaan, dan perubahan diri.


Semoga setiap perayaan, setiap doa yang dipanjatkan, membawa kita lebih dekat dengan kedamaian sejati—sebuah kedamaian yang bukan hanya kita rasakan sendiri, tetapi juga kita bagi dengan sesama. Sebab pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati terletak pada bagaimana kita mencintai, memberi, dan menerima dengan hati yang tulus, tanpa perlu mengejar pengakuan atau kesempurnaan yang ditentukan oleh dunia luar.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now