Oleh: Syamsul Kurniawan
Ramadhan
adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan keheningan. Pada malam-malamnya yang
syahdu, doa-doa naik kepada langit, menghantar harapan yang menggantung di hati
setiap insan. Setiap tarawih, setiap dzikir, adalah langkah menuju ketenangan,
meninggalkan dunia yang bising dan penuh dengan kecemasan. Dalam keheningan
itu, umat merasakan kedekatan dengan Tuhan, meresapi makna kehidupan yang
seringkali terlewatkan dalam kesibukan dunia. Seperti tirai yang perlahan
ditarik, Ramadhan mengundang kita untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda,
untuk menghargai waktu yang ada, dan untuk memperbaiki diri.
Namun,
semua itu hanyalah sebuah kenangan yang akan menghilang, seiring datangnya Idul
Fitri. Sorak sorai yang menggema, lampu-lampu berkelap-kelip, dan suara takbir
yang memenuhi udara. Idul Fitri, hari kemenangan yang selalu dijanjikan sebagai
puncak dari pengorbanan sebulan penuh, tiba dengan segala kegemilangannya.
Tetapi, apakah kita benar-benar merasakan kemenangan itu, ataukah kita hanya
terjebak dalam rutinitas perayaan yang telah terbungkus dalam simbol-simbol
yang tampaknya lebih penting daripada makna yang terkandung di dalamnya? Apakah
kegembiraan itu benar-benar murni, ataukah itu hanya sekadar citra yang kita
ciptakan untuk diri sendiri, untuk memenuhi ekspektasi dunia yang terbalut
dalam realitas yang semakin terdistorsi?
Ramadhan
membawa kedamaian yang menyelimuti setiap malam. Saat berbuka puasa, ada rasa
syukur yang mendalam atas nikmat yang diberikan Tuhan. Setiap butir makanan
yang disuapkan terasa begitu berarti, begitu penuh arti, karena kita tahu
betapa sulitnya menahan lapar dan haus sepanjang hari. Tetapi, keheningan
ini—yang terkadang hadir dalam bentuk kesendirian—berubah menjadi gegap gempita
saat Idul Fitri datang. Hari kemenangan seolah menjadi sebuah parade
kegembiraan yang penuh dengan tawa dan keriuhan. Pakaian baru, makanan
berlimpah, dan kebersamaan dengan keluarga menjadi tanda bahwa kemenangan telah
tercapai.
Namun,
apakah kebahagiaan ini sejati? Ketika di luar sana, banyak mereka yang tidak
bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Ketika dunia menyajikan gambar
kebahagiaan yang sempurna di media sosial, apakah kita benar-benar merayakan
dengan hati yang penuh makna? Di tengah sorak sorai, di dalam keramaian, ada
ruang yang tak terisi, kekosongan yang tidak terucap, dan perasaan yang kadang
terlupakan. Dalam kegembiraan itu, kita sering kali lupa bahwa kebahagiaan yang
sesungguhnya datang dari dalam, bukan dari apa yang kita tampilkan di luar.
Antara
Kegembiraan dan Kehilangan
Bagi
mereka yang memiliki keluarga lengkap, Idul Fitri adalah saat yang penuh dengan
kebahagiaan. Anak-anak mengenakan baju baru, ayah dan ibu berbagi tawa, dan
seisi rumah dipenuhi dengan makanan yang menggoda. Namun, bagi sebagian
lainnya, kegembiraan itu adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan. Anak-anak
yatim piatu, orang-orang yang telah kehilangan suami atau istri, mereka yang
merayakan Idul Fitri dengan hati yang penuh dengan luka. Tidak ada lagi tawa
yang menggema, hanya ada hening yang semakin mendalam.
Saat
melihat mereka yang penuh sukacita, sering kali kita tidak bisa menahan air
mata, menyadari bahwa kebahagiaan itu begitu rapuh. Kita merasa kehilangan, dan
meskipun tak ada yang mengatakannya, kita tahu bahwa mereka yang merayakan
dengan penuh luka ini menyimpan duka yang dalam. Idul Fitri bukan sekadar soal
pakaian baru atau hidangan lezat. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah tentang
bagaimana kita menyikapi kehilangan yang kita rasakan, bagaimana kita menerima
ketidaksempurnaan dalam hidup ini, dan bagaimana kita bisa tetap mencari
kedamaian meski hati terasa hampa.
Pada
pagi Idul Fitri, banyak yang melakukan ziarah ke makam keluarga yang telah
meninggal. Ziarah ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga cara kita untuk
mengingat bahwa kehidupan ini fana. Di makam, kita berdiri di depan batu nisan,
mendoakan mereka yang telah pergi, dan dalam diam, kita merasakan kedalaman
perasaan yang tak terungkapkan. Dalam kesunyian itu, ada pengingat yang tajam:
bahwa waktu tidak akan pernah kembali. Setiap langkah yang kita ambil di dunia
ini akan menuju akhir yang tak terhindarkan, dan hanya kenangan yang akan
bertahan. Terkadang, saat berdiri di depan makam, kita merasa sangat kecil.
Betapa rapuhnya hidup ini, betapa kita sering terjebak dalam kesibukan dan lupa
untuk menghargai momen yang ada.
Kehilangan
terasa begitu nyata di saat seperti ini. Ketika kita menyapa mereka yang telah
tiada, kita tidak bisa menahan perasaan haru yang datang. Ada tanya dalam hati,
apakah mereka bisa merasakan betapa kita merindukan mereka? Apakah mereka
mendengar doa-doa yang kita lantunkan? Kepergian mereka meninggalkan ruang
kosong yang tak bisa diisi oleh siapapun. Idul Fitri adalah pengingat bahwa
kita semua akan tiba pada akhirnya. Kehilangan adalah bagian dari perjalanan
yang harus kita jalani.
Geertz,
dalam Islam Observed (1971), mengungkapkan bahwa agama adalah sistem
simbol yang membentuk realitas sosial dan spiritual. Namun, dalam kenyataannya,
simbol-simbol agama sering kali terdistorsi oleh kehidupan modern. Ramadhan dan
Idul Fitri, yang seharusnya menjadi momen untuk memperbaharui hubungan kita
dengan Tuhan dan sesama, sering kali terjebak dalam simbolisme yang kosong.
Pakaian baru, makanan enak, dan kebersamaan keluarga yang tampak sempurna
menjadi citra yang lebih penting daripada makna sesungguhnya. Ini adalah dunia
yang dipenuhi dengan gambar-gambar yang diciptakan oleh media, sebuah dunia
yang semakin jauh dari esensi sejati dari perayaan ini.
Pada
Idul Fitri, kita seharusnya merayakan kemenangan atas hawa nafsu, tetapi
terkadang kita malah merayakan citra kemenangan yang dibentuk oleh media.
Setiap foto yang diunggah di media sosial menjadi bagian dari pertunjukan
sosial yang dipentaskan untuk dunia. Kita seakan-akan lupa bahwa perayaan
sejati adalah ketika kita bisa menyentuh hati orang lain, memberi dan menerima
dengan tulus, tanpa perlu menunggu pengakuan dari luar. Tapi, dalam hiruk-pikuk
kehidupan, kita sering kali terjebak dalam pencitraan. Kita lupa bahwa
sesungguhnya, kebahagiaan itu ada dalam kesederhanaan, dalam berbagi dengan
tulus, dan dalam menerima segala kekurangan kita.
Idul
Fitri membawa sukacita, tetapi bagi sebagian orang, keramaian itu justru
membawa kesendirian yang semakin dalam. Mereka yang tidak memiliki keluarga
atau yang harus merayakan dengan kesepian sering kali merasa asing dalam
keramaian ini. Pakaian baru terasa berat, dan makanan yang melimpah tidak mampu
mengisi kekosongan yang ada dalam hati. Mereka merayakan dengan hati yang
hampa, dengan kenangan yang menyakitkan.
Namun,
di balik kesendirian itu, ada harapan. Harapan bahwa setiap Ramadhan membawa
kesempatan untuk memperbaharui diri, untuk menjadi lebih baik, dan untuk meraih
kedamaian. Harapan bahwa setiap permohonan maaf yang diucapkan pada Idul Fitri
akan membuka pintu pengampunan, dan bahwa setiap doa yang dipanjatkan akan
membawa kedamaian dalam jiwa yang terluka.
Bandul
Jangan Terlalu Menjauh
Geertz
(1971) mengatakan bahwa agama, dalam hal ini Islam, adalah sistem simbol yang
membantu kita memahami dunia sosial kita. Namun, dalam dunia yang semakin
terhubung dan terbuai oleh citra-citra yang diciptakan oleh media, kita sering
kali lupa bahwa Islam mengajarkan kita untuk lebih dari sekadar simbol. Islam
mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kasih sayang, untuk saling memaafkan,
dan untuk memperbaharui hubungan dengan sesama. Idul Fitri bukan hanya soal
diri kita sendiri, tetapi tentang bagaimana kita menjaga hubungan dengan orang
lain, bagaimana kita memberi, dan bagaimana kita menerima.
Terkadang,
kita terjebak dalam pencarian kebahagiaan yang tampak luar biasa—dalam pakaian
baru, makanan mewah, atau kebersamaan keluarga yang sempurna. Namun,
kebahagiaan yang sejati datang ketika kita menemukan kedamaian dalam diri kita
sendiri, ketika kita mampu menerima kenyataan hidup dan berusaha untuk menjadi
pribadi yang lebih baik.
Setelah
bulan Ramadhan berlalu, kita sering kali kembali pada rutinitas kita yang lama.
Namun, apakah kita benar-benar membawa semangat dan pembaruan yang kita rasakan
selama Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita telah berubah
menjadi pribadi yang lebih baik, lebih penuh kasih sayang, dan lebih pemaaf?
Ataukah kita hanya sekadar mengikuti rutinitas, tanpa benar-benar meresapi
makna dari perjalanan spiritual ini?
Idul
Fitri adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita telah
merayakan kemenangan yang sejati, kemenangan atas diri kita sendiri, atas
kesalahan dan kekurangan kita? Ataukah kita hanya merayakan kemenangan yang
terlihat di luar, tanpa memperbaiki apa yang ada di dalam?
Di
balik senyap Ramadhan yang penuh doa dan harapan, Idul Fitri datang dengan
sorak sorai yang menggembirakan. Namun, kita harus ingat bahwa kebahagiaan
sejati tidak terletak pada apa yang terlihat oleh dunia, tetapi pada kedamaian
yang kita temukan dalam hati kita sendiri. Dalam momen ini, mari kita
refleksikan kembali makna sejati dari pengampunan, kebersamaan, dan perubahan
diri.
Semoga
setiap perayaan, setiap doa yang dipanjatkan, membawa kita lebih dekat dengan
kedamaian sejati—sebuah kedamaian yang bukan hanya kita rasakan sendiri, tetapi
juga kita bagi dengan sesama. Sebab pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati
terletak pada bagaimana kita mencintai, memberi, dan menerima dengan hati yang
tulus, tanpa perlu mengejar pengakuan atau kesempurnaan yang ditentukan oleh
dunia luar.***