Oleh: Syamsul Kurniawan
ABAD 21 membawa tantangan yang semakin besar bagi sistem sosial global, tak terkecuali dalam hal pendidikan agama Islam. Sebagai bagian integral dari masyarakat, pendidikan agama Islam (PAI) harus beradaptasi dengan dinamika yang berkembang, seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Perspektif Talcott Parsons tentang teori struktural fungsionalisme memberikan kerangka yang sangat relevan untuk menganalisis fenomena ini. Parsons menggambarkan sistem sosial sebagai suatu entitas yang saling terhubung, yang terdiri dari berbagai elemen yang berfungsi secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, PAI adalah salah satu sistem dalam masyarakat yang tidak hanya harus menanggapi perubahan internal dalam pendidikan, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan eksternal yang disebabkan oleh arus globalisasi dan kemajuan teknologi.
Sistem sosial, menurut Talcott Parsons
(1951), adalah suatu entitas yang terdiri dari elemen-elemen yang saling
berhubungan dan memiliki fungsi tertentu untuk menjaga kestabilan atau
keseimbangan dalam masyarakat. Sistem ini bukanlah statis; ia terus berkembang
seiring dengan perubahan kondisi sosial yang ada. Sistem sosial berkembang
dalam bentuk yang terstruktur dan dinamis, dengan pola interaksi antara
individu dan kelompok yang terus berubah. Dalam hal ini, pendidikan agama Islam
merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih luas, di mana tujuan
utamanya adalah untuk menanamkan nilai-nilai moral dan agama kepada peserta
didik agar mereka mampu menjalani kehidupan dengan baik, sesuai dengan
prinsip-prinsip ajaran Islam.
Pendidikan agama Islam, sebagai salah
satu subsistem dalam sistem sosial, memiliki peran penting dalam membentuk
individu yang memiliki karakter dan moralitas yang tinggi. Namun, tantangan
terbesar yang dihadapi oleh pendidikan agama Islam saat ini adalah bagaimana
sistem ini beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam masyarakat. Dalam era
globalisasi, pendidikan agama Islam dihadapkan pada dua tantangan besar:
perubahan dalam sistem nilai yang dibawa oleh budaya luar, dan perkembangan
pesat dalam teknologi informasi yang mempengaruhi pola pembelajaran dan
interaksi sosial.
Menghadapi Globalisasi
Salah satu karakteristik utama dari
abad 21 adalah globalisasi yang membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek
kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan. Globalisasi telah mengubah pola
pikir, pola konsumsi, dan pola hubungan antarindividu. Dalam konteks pendidikan
agama Islam, fenomena ini memberikan tantangan besar, terutama terkait dengan
nilai-nilai moral dan budaya yang dipegang oleh masyarakat. Globalisasi sering
kali membawa serta budaya materialistik, individualistik, dan hedonistik yang bertentangan
dengan prinsip-prinsip Islam yang menekankan pada nilai-nilai kolektivisme,
kedamaian, dan keadilan sosial.
Dalam pandangan Talcott Parsons (1951),
setiap perubahan eksternal akan mempengaruhi struktur sistem sosial yang ada,
dan pendidikan agama Islam tidak terkecuali. Untuk itu, PAI harus mampu
beradaptasi dan mengintegrasikan nilai-nilai global dengan ajaran Islam yang
sudah ada. Pendidikan agama Islam tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan
normatif dan dogmatik yang hanya fokus pada aspek ritual agama. Sebaliknya,
pendidikan agama Islam harus mampu memberikan pemahaman yang lebih dalam
mengenai nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran Islam, seperti
kesalehan sosial, kerja sama antarumat beragama, dan keadilan sosial.
Perkembangan teknologi informasi yang
sangat pesat di abad 21 juga mempengaruhi sistem pendidikan agama Islam.
Teknologi membuka akses informasi yang sangat luas dan memungkinkan penyebaran
pengetahuan secara lebih cepat dan murah. Namun, di sisi lain, perkembangan
teknologi ini juga membawa tantangan baru dalam dunia pendidikan, termasuk
pendidikan agama. Pembelajaran berbasis digital dan pembelajaran jarak jauh
melalui e-learning, misalnya, mengubah cara kita memandang pendidikan agama.
Dulu, pembelajaran agama dilakukan dengan cara tatap muka langsung, tetapi
sekarang pembelajaran agama dapat dilakukan secara virtual, melalui platform
digital yang memungkinkan peserta didik mengakses materi ajaran agama kapan
saja dan di mana saja.
Namun, meskipun teknologi memberikan
banyak keuntungan, ia juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satunya
adalah bagaimana memastikan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan agama
Islam tidak mengurangi esensi ajaran Islam itu sendiri. Pembelajaran agama
melalui teknologi, jika tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi dangkal dan
kehilangan nilai moralnya. Oleh karena itu, PAI perlu memanfaatkan teknologi
dengan bijak, dengan tetap memperhatikan substansi ajaran agama dan nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya.
Pendidikan Agama Islam yang Holistik: Menjawab Kebutuhan Abad 21
Pendidikan agama Islam di abad 21
haruslah bersifat holistik, mencakup tiga dimensi utama: kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Pendidikan agama Islam yang hanya berfokus pada aspek kognitif
(pengetahuan) saja tidak cukup untuk menciptakan individu yang mampu
mengamalkan ajaran Islam secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya,
PAI harus mampu membentuk karakter peserta didik agar mereka dapat
menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial mereka. Sebagai
contoh, pendidikan agama Islam harus mampu menanamkan nilai-nilai seperti
keadilan sosial, toleransi antarumat beragama, serta rasa empati terhadap
sesama.
Dalam konteks ini, penting untuk
memahami bahwa pendidikan agama Islam bukan hanya soal menghafal teks-teks
agama atau melaksanakan ritual-ritual agama, tetapi juga tentang bagaimana
peserta didik dapat meresapi dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pemikiran Talcott Parsons yang menekankan
pentingnya integrasi antara sistem sosial dan budaya dalam menciptakan
keseimbangan dalam masyarakat. Pendidikan agama Islam yang efektif adalah
pendidikan yang mampu menghubungkan ajaran agama dengan realitas kehidupan
sosial, serta mampu menjawab tantangan zaman.
1. Tantangan PAI dalam Menghadapi Ketidakseimbangan Sosial
Salah satu tantangan terbesar dalam
pendidikan agama Islam saat ini adalah bagaimana pendidikan ini dapat mengatasi
ketidakseimbangan sosial yang ada. Ketidakseimbangan sosial ini muncul sebagai
akibat dari perkembangan teknologi, globalisasi, serta perubahan dalam struktur
sosial masyarakat. Dalam banyak kasus, globalisasi telah menyebabkan perubahan
dalam pola hidup masyarakat yang mengarah pada konsumtivisme dan
individualisme, yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai kolektif yang
diajarkan dalam agama Islam.
Pendidikan agama Islam perlu
memberikan jawaban terhadap tantangan ini. Salah satunya adalah dengan
menanamkan nilai-nilai moral yang lebih relevan dengan kehidupan modern,
seperti tanggung jawab sosial, solidaritas, dan pentingnya berbagi dengan
sesama. Nilai-nilai ini seharusnya tidak hanya diajarkan dalam konteks teori,
tetapi juga diterapkan dalam kegiatan sehari-hari peserta didik, baik di
sekolah, di rumah, maupun di masyarakat.
2. PAI dan Peranannya dalam Membentuk Karakter Masyarakat
Pendidikan agama Islam di abad 21
harus memiliki peran yang lebih besar dalam membentuk karakter masyarakat,
bukan hanya sebagai pelengkap dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan
agama Islam harus dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembentukan
individu yang memiliki moralitas yang baik dan mampu beradaptasi dengan
perubahan zaman. Sistem pendidikan agama Islam harus mampu memfasilitasi
peserta didik untuk menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual,
tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Peran PAI dalam membentuk karakter ini
sangat penting, terutama dalam mengatasi masalah sosial yang berkembang di
masyarakat, seperti korupsi, ketidakadilan, dan kekerasan. Dengan menanamkan
nilai-nilai agama yang mengedepankan keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan, PAI
dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan lebih baik.
Solusi PAI untuk Menjawab Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi
Di tengah arus globalisasi yang
semakin menguat, pendidikan agama Islam perlu mengambil peran strategis dalam
menjawab tantangan zaman. Salah satu solusi yang dapat diimplementasikan adalah
dengan mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam konteks kehidupan sosial yang
lebih luas. Sebagai contoh, PAI dapat berfokus pada pengembangan sikap
toleransi dan kerja sama antarumat beragama, serta mengajarkan pentingnya
keberagaman dan penghargaan terhadap perbedaan. Dengan pendekatan ini,
pendidikan agama Islam tidak hanya menjadi sarana untuk mengajarkan agama,
tetapi juga untuk memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat yang semakin
plural.
Selain itu, sistem pendidikan agama
Islam perlu memperbaharui kurikulumnya untuk mencakup topik-topik yang lebih
relevan dengan tantangan global, seperti isu-isu sosial, ekonomi, dan politik
yang dihadapi masyarakat saat ini. Dengan demikian, PAI tidak hanya berfungsi
untuk memberikan pengetahuan agama, tetapi juga untuk mengajarkan keterampilan
yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.
Menyongsong Pendidikan Agama Islam yang Relevan
Dalam menganalisis pendidikan agama
Islam melalui perspektif teori struktural fungsionalisme Talcott Parsons, dapat
disimpulkan bahwa sistem pendidikan agama Islam harus beradaptasi dengan
perubahan zaman, baik dari segi teknologi, budaya, maupun dinamika sosial yang
ada. PAI harus menjadi lebih dari sekadar pelengkap dalam sistem pendidikan
nasional. Ia harus mampu berfungsi sebagai agen perubahan yang dapat memberikan
solusi terhadap masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Melalui pendidikan
agama yang holistik, PAI dapat membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial, serta mampu
menghadapi tantangan zaman dengan penuh tanggung jawab. Dengan cara ini,
pendidikan agama Islam tidak hanya relevan dalam konteks kehidupan spiritual,
tetapi juga memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan masyarakat yang
lebih adil, sejahtera, dan harmonis.
Sebagai kesimpulan, pendidikan agama
Islam di abad 21 memiliki tantangan yang tidak ringan. Namun, jika mampu
beradaptasi dengan perubahan zaman dan terus mengintegrasikan nilai-nilai
universal dalam ajaran Islam, PAI dapat memainkan peran kunci dalam menciptakan
individu yang tidak hanya paham agama tetapi juga memiliki kepedulian sosial
yang tinggi. Proses ini memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak:
pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dan masyarakat. Hanya dengan kerjasama
yang solid dan pemahaman yang mendalam akan relevansi nilai-nilai agama dalam
kehidupan sosial, pendidikan agama Islam dapat berkontribusi maksimal dalam
menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi.
Dalam konteks ini, kita perlu
menyadari bahwa agama, dalam hal ini Islam, bukan hanya sekadar dimensi
spiritual, tetapi juga merupakan bagian integral dari tatanan sosial yang dapat
mengarahkan umat manusia menuju kebaikan bersama. Dengan menekankan nilai-nilai
moral yang terkandung dalam ajaran Islam, pendidikan agama Islam dapat menjadi
pendorong utama dalam membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan,
kesejahteraan, dan kerukunan antarumat beragama.
Pendidikan agama Islam yang
disesuaikan dengan konteks sosial yang terus berkembang ini, pada akhirnya,
akan membentuk individu yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang
mendalam, tetapi juga sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam
kehidupan sehari-hari. Ini adalah tugas besar yang harus dihadapi oleh semua
pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan dengan pemahaman yang lebih
baik tentang peran agama dalam sistem sosial, kita bisa mewujudkan perubahan
positif di masyarakat.
Sebagai masyarakat yang hidup di era digital ini, kita perlu memastikan bahwa pendidikan agama Islam tetap relevan dan efektif dalam membimbing generasi muda. Oleh karena itu, peran guru, kurikulum, serta pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus terus diperbaiki dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan cara ini, pendidikan agama Islam tidak hanya menjadi sarana untuk mempelajari nilai-nilai agama, tetapi juga untuk membangun karakter dan moralitas yang akan membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Dengan demikian, pendidikan agama Islam yang memadukan ilmu agama dengan aspek sosial, budaya, dan teknologi akan membuka jalan bagi terwujudnya masyarakat yang lebih baik dan lebih beradab, sesuai dengan tujuan luhur yang digariskan dalam ajaran agama Islam itu sendiri.***