Oleh:
Syamsul Kurniawan
Saya
baru saja membaca berita yang begitu menguras air mata dan menyentuh hati.
Gaza, wilayah yang telah lama dilanda konflik, kini menghadapi krisis yang
semakin dalam. Warga Gaza terancam kelaparan karena stok makanan hanya akan
bertahan untuk dua pekan ke depan. Sementara itu, pendidikan anak-anak di Gaza
menghadapi hambatan besar akibat dampak perang yang tak kunjung usai. Di tengah
upaya memulai tahun ajaran baru, sekolah-sekolah di Gaza mengalami kesulitan
besar dalam memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, yang sudah
terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang kekerasan dan ketidakpastian.
Bagaimana bisa pendidikan menjadi prioritas jika kelaparan dan kehancuran
mengancam kehidupan mereka setiap hari?
Membayangkan
suramnya pendidikan anak-anak di Gaza, saya teringat akan sebuah kenyataan yang
tak terhindarkan—bahwa untuk setiap anak yang lahir di Gaza, dunia mereka lebih
sering dipenuhi dengan kehancuran daripada kebahagiaan. Setiap langkah mereka,
setiap napas yang mereka ambil, penuh dengan ketakutan, kesedihan, dan trauma
yang tak terucapkan. Ini adalah realitas yang harus dihadapi oleh anak-anak
Gaza setiap hari. Bagi mereka, sekolah seharusnya menjadi tempat berkembangnya
intelektual dan emosional, namun kenyataannya sekolah menjadi medan perjuangan
untuk mencari rasa aman, harapan, dan stabilitas yang semakin sulit dijangkau.
Pendidikan
di Gaza, seperti yang kita kenal, bukan hanya tentang menuntut ilmu atau
mencapai prestasi akademik. Pendidikan di Gaza adalah sebuah tantangan besar,
sebuah upaya untuk menyembuhkan luka yang dalam dan untuk memberikan kesempatan
bagi anak-anak Gaza untuk membangun masa depan yang lebih baik. Jika pendidikan
hanya sebatas mengajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya, maka
ia akan gagal untuk menyentuh inti dari permasalahan yang ada: trauma
psikologis dan sosial yang telah mengakar dalam kehidupan mereka.
Untuk
anak-anak yang tumbuh di tengah kekerasan dan ketakutan, dunia mereka adalah
dunia yang penuh dengan kehancuran. Mereka dibesarkan dalam lingkungan yang
tidak pernah memberikan rasa aman. Pendidikan di Gaza harus lebih dari sekadar
kurikulum akademik yang kaku. Pendidikan di Gaza harus menjadi alat untuk
penyembuhan, yang tidak hanya mengajarkan keterampilan intelektual, tetapi juga
memberi kekuatan emosional dan sosial bagi anak-anak untuk menghadapinya. Hal
ini membutuhkan pendekatan yang penuh empati, penyesuaian dengan kondisi
psikologis mereka, serta pemahaman yang mendalam tentang dampak trauma yang
mereka alami.
Menyembuhkan
Luka dan Membangun Harapan
Sebagai
contoh, adaptasi dalam pendidikan Gaza berarti menciptakan lingkungan yang aman
dan damai bagi anak-anak yang telah terbiasa dengan kekerasan. Sekolah harus
menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga
memberikan rasa aman, kedamaian, dan kepercayaan diri. Namun, kenyataannya
banyak sekolah di Gaza yang masih rusak akibat serangan udara dan kekerasan
lainnya. Fasilitas yang terbatas dan ketidakpastian yang terus menerus
menghantui anak-anak menciptakan hambatan besar untuk menciptakan lingkungan
belajar yang aman.
Bahkan
ketika sekolah-sekolah di Gaza berusaha memberikan pendidikan terbaik,
tantangan besar mereka adalah menghadirkan keamanan dan stabilitas bagi
anak-anak yang tumbuh di tengah ketakutan. Mereka tidak hanya menghadapi
tantangan akademik, tetapi juga kesulitan untuk memulihkan rasa aman yang
seharusnya menjadi hak dasar mereka. Untuk itu, para pendidik di Gaza, yang
juga terpapar trauma akibat konflik, harus dilatih untuk mengenali tanda-tanda
trauma pada anak-anak dan memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan.
Pencapaian
tujuan pendidikan di Gaza juga harus dirancang lebih besar dari sekadar nilai
akademis. Tujuan pendidikan di Gaza tidak hanya untuk menghasilkan siswa yang
cerdas secara akademik, tetapi juga untuk membentuk karakter yang kuat dan
kemampuan emosional yang sehat. Anak-anak Gaza harus diajarkan untuk mengelola
emosi mereka dan memahami bahwa mereka bisa lebih dari sekadar korban perang.
Mereka harus diajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi
tentang menciptakan kedamaian dan rekonsiliasi.
Salah
satu tantangan terbesar di Gaza adalah membangun kembali rasa komunitas yang
telah lama hancur. Pendidikan harus bisa mengintegrasikan nilai-nilai toleransi
dan kerukunan, dan membantu anak-anak yang berbeda latar belakang etnis, agama,
dan budaya untuk bekerja sama. Di tengah perpecahan yang terjadi, pendidikan
harus menjadi tempat bagi anak-anak Gaza untuk belajar bekerja sama dan
memahami bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk hidup berdampingan dalam
kedamaian.
Namun,
untuk mencapai tujuan ini, dibutuhkan lebih dari sekadar reformasi kurikulum.
Pendidikan di Gaza harus memelihara pola-pola budaya yang mendukung perdamaian,
toleransi, dan saling menghormati. Hal ini sangat penting, mengingat budaya
ketakutan dan kekerasan telah mengakar begitu dalam dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat Gaza. Sekolah harus menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak untuk
belajar berinteraksi tanpa kekerasan, dan untuk memahami bahwa setiap individu
memiliki hak yang sama untuk dihargai.
Trauma
dan Pendidikan: Keterkaitan yang Tidak Bisa Diabaikan
Tidak
dapat dipungkiri bahwa trauma adalah salah satu faktor terbesar yang
mempengaruhi cara anak-anak Gaza belajar dan berkembang. Mereka membawa beban
psikologis yang sangat berat, yang mempengaruhi cara mereka berinteraksi dan
melihat dunia. Oleh karena itu, pendidikan di Gaza harus didesain dengan
kesadaran penuh terhadap trauma yang mereka alami. Pendidikan tidak hanya
tentang mengajarkan keterampilan akademis, tetapi juga tentang memberikan alat
untuk sembuh, untuk belajar mengelola emosi, dan untuk memahami bahwa dunia
tidak hanya tentang kekerasan, tetapi juga tentang perdamaian.
Guru
di Gaza tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penyembuh.
Mereka harus mampu mengenali tanda-tanda trauma pada siswa mereka dan
memberikan dukungan yang diperlukan. Dengan pendekatan yang penuh empati dan
perhatian, guru dapat membantu anak-anak merasa dihargai dan didengar, serta
mengurangi rasa takut yang mereka bawa. Namun, peran guru ini sangat berat.
Banyak dari mereka sendiri mungkin juga mengalami trauma akibat konflik yang
berkepanjangan. Oleh karena itu, pelatihan untuk guru dalam menangani trauma
sangat penting.
Pendidikan
tetap menjadi harapan di tengah kehancuran. Meskipun tantangan yang dihadapi
Gaza sangat besar, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk membawa perubahan
positif. Anak-anak Gaza, meskipun dibesarkan dalam kehancuran, masih memiliki
potensi besar untuk belajar tentang cinta, penghargaan, dan kerja sama.
Pendidikan yang dirancang dengan baik dapat membawa mereka untuk bangkit dari
trauma dan membangun masa depan yang lebih cerah.
Pada
akhirnya, pendidikan adalah satu-satunya cara yang dapat membawa Gaza dari
trauma menuju harapan. Ini adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan,
tetapi dengan perhatian yang tepat terhadap kebutuhan emosional, sosial, dan
psikologis anak-anak Gaza, kita dapat berharap untuk melihat generasi yang
mampu membawa perubahan, menciptakan kedamaian, dan membangun masa depan yang
lebih baik. Pendidikan di Gaza adalah lebih dari sekadar pengetahuan; ia adalah
kunci untuk membuka harapan dan membangun masa depan yang lebih baik bagi
mereka yang hidup di tengah kehancuran.***