Iklan

Ketakutan Kolektif: Efisiensi Anggaran sebagai Pemicu Moral Panic di Ruang Publik

syamsul kurniawan
Sunday, March 2, 2025
Last Updated 2025-03-02T08:39:00Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Di tengah gejolak ekonomi yang penuh ketidakpastian, kebijakan efisiensi anggaran yang diluncurkan oleh pemerintah sering kali memicu perdebatan. Namun, yang lebih menggelisahkan adalah bagaimana kebijakan ini menyebarkan ketakutan yang merasuki ruang publik, sebuah ketakutan yang bukan hanya soal angka di kertas, tetapi juga berakar pada dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketakutan ini, yang terbangun di ruang publik, berkembang menjadi kekhawatiran kolektif yang mengubah cara pandang kita terhadap masa depan. Kebijakan yang dimaksudkan untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya ini, sering kali membuka sisi gelap dari ketidakpastian sosial yang lebih dalam.

 

Efisiensi anggaran—sebuah kebijakan yang didorong oleh tuntutan untuk menjaga kesehatan keuangan negara—seakan menjadi titik tolak dalam menilai kapasitas negara dalam mengelola sumber daya yang terbatas. Namun, di balik niat baik tersebut, muncul bayangan gelap di ruang publik: ketakutan akan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Sering kali, pemangkasan anggaran dianggap sebagai pemangkas hak-hak rakyat yang sudah kesulitan. Di sinilah masalahnya—ketakutan ini bukan hanya soal teori, tetapi tentang ancaman langsung yang dirasakan oleh mereka yang sudah berada di ambang kesulitan.

 

Ketakutan Kolektif dalam Ruang Publik

 

Sebagaimana dijelaskan oleh Stanley Cohen (1972), dalam fenomena moral panic terdapat fakta sosial bahwa ketakutan kolektif sering kali meluas ketika suatu isu dianggap mengancam tatanan sosial yang telah mapan. Isu efisiensi anggaran, yang berpotensi memotong anggaran untuk sektor-sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, memicu kecemasan yang menyebar ke ruang publik. Ketakutan ini kemudian menyebar melalui berbagai saluran, mulai dari media sosial hingga percakapan sehari-hari di kedai kopi. Di tengah ketidakpastian ini, muncul anggapan bahwa kebijakan ini, meskipun dimaksudkan untuk kebaikan, justru berpotensi merusak tatanan sosial yang sudah ada.

 

Namun, ketakutan ini sering kali berlebihan, terbentuk oleh kekosongan informasi dan ketidakpastian yang melanda. Masyarakat tidak hanya merespons dengan kecemasan, tetapi juga dengan spekulasi dan narasi yang lebih menakutkan daripada kenyataan itu sendiri. Ketakutan ini menciptakan semacam kekosongan informasi, di mana kebijakan apapun, meskipun rasional secara ekonomi, bisa dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan sosial. Inilah inti dari moral panic: ketakutan yang menguasai masyarakat, terlahir dari kekurangan pemahaman yang memadai tentang kebijakan yang sedang dijalankan.

 

Jika kita melihat lebih dalam, ketakutan ini dapat diibaratkan seperti kisah Sisyphus dalam mitologi Yunani. Sisyphus dihukum untuk menggulingkan batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali setiap kali ia hampir mencapainya. Kisah ini menggambarkan ketidakpastian yang terus-menerus menguji kapasitas dan ketahanan individu. Begitu pula, masyarakat kita terjebak dalam ketakutan yang tak pernah berakhir—seperti Sisyphus, kita terus-menerus dihadapkan pada sebuah batu besar, sebuah kebijakan yang tidak pernah selesai untuk dipahami dan diterima sepenuhnya. Setiap kali ada secercah harapan bahwa kebijakan ini akan membawa kebaikan, harapan itu jatuh kembali ke dasar ketakutan yang lebih dalam.

 

Namun, Sisyphus, meski dihukum untuk pekerjaan yang tak pernah selesai, masih mampu bertahan. Dalam konteks moral panic ini, kita pun harus bertanya pada diri kita: apakah kita akan terjebak dalam siklus ketakutan yang berlarut-larut, ataukah kita akan berusaha melihat kebijakan ini secara lebih rasional dan menilai dampaknya dengan kepala dingin? Di sinilah tantangannya: bagaimana kita dapat mengatasi ketakutan kolektif ini dan menjadikan dialog sebagai alat untuk mencapainya?

 

Ruang Publik dan Dialog Kritis

 

Kebijakan efisiensi anggaran yang tengah diperdebatkan ini harus dilihat dalam konteks ruang publik yang sehat dan rasional. Ruang publik, sebagaimana dikemukakan oleh Jurgen Habermas (1962) menyinggung tentang public sphere, sebagai ruang di mana individu-individu bisa berdiskusi dan berdebat untuk mencapai pemahaman bersama tanpa adanya dominasi informasi yang menyesatkan. Sayangnya, ruang publik kita kini lebih sering dipenuhi dengan spekulasi, ketakutan, dan narasi yang lebih berfokus pada apa yang bisa salah daripada apa yang bisa diperbaiki.

 

Di sini, pentingnya transparansi dan komunikasi dari pihak pemerintah menjadi kunci. Jika masyarakat tidak diberikan penjelasan yang memadai tentang tujuan dan mekanisme efisiensi anggaran, maka ketakutan dan keraguan akan terus berkembang. Menurut Habermas, dialog terbuka yang bebas dari dominasi sangat penting untuk menciptakan pemahaman bersama yang lebih sehat. Tanpa adanya dialog yang murni, kebijakan seperti efisiensi anggaran akan tetap dipandang sebagai ancaman ketimbang peluang yang dapat mendatangkan perbaikan.

 

Dalam hal ini, kita perlu mengevaluasi dengan hati-hati pertanyaan besar: apakah kebijakan efisiensi anggaran ini benar-benar solusi untuk mengelola keuangan negara, ataukah justru berpotensi mengancam kesejahteraan masyarakat? Di satu sisi, kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi pemborosan dan mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. Namun, dalam implementasinya, pemotongan anggaran tanpa mempertimbangkan dampak sosial bisa menjadi pedang bermata dua. Sektor-sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial bisa terdampak, yang pada gilirannya akan memperburuk ketimpangan sosial yang sudah ada.

 

Menghadapi Ketakutan dengan Pemahaman Kritis

 

Penting bagi kita untuk menanggapi kebijakan ini dengan pemahaman yang lebih kritis dan rasional. Terjebak dalam ketakutan kolektif hanya akan menghambat proses adaptasi masyarakat terhadap perubahan. Masyarakat perlu diberi kesempatan untuk berdialog, bertanya, dan memahami bagaimana kebijakan ini akan memengaruhi kehidupan mereka. Proses ini akan mengurangi ketakutan yang berlebihan dan mengarahkan perhatian kita pada tujuan yang lebih besar: menciptakan sistem keuangan negara yang lebih sehat dan berkelanjutan.

 

Namun, kita juga harus mengingat bahwa ketakutan yang berlebihan hanya akan membatasi ruang gerak kita. Sebaliknya, jika kita berusaha memahami kebijakan ini secara menyeluruh dan berpikir lebih kritis, kita bisa mulai melihat potensi dari kebijakan efisiensi anggaran ini. Tentu saja, kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak sosial yang mungkin timbul, tetapi kita juga harus melihat kebijakan ini dalam kerangka solusi jangka panjang yang lebih konstruktif.

 

Kembali pada metafora Sisyphus, kita bisa melihat bahwa meskipun tugasnya tampak tidak pernah selesai, ia mampu menghadapinya dengan kesabaran yang luar biasa. Dalam konteks moral panic yang melanda ruang publik terkait efisiensi anggaran, kita seharusnya tidak terjebak dalam ketakutan yang berlarut-larut. Sebaliknya, kita bisa mengambil hikmah dari Sisyphus: meskipun ia dihukum dengan tugas yang tak pernah selesai, ia tetap menjalani proses tersebut dengan ketabahan. Demikian pula dengan masyarakat kita; meskipun kebijakan ini mungkin menimbulkan kesulitan sementara, kita harus tetap fokus pada dialog yang konstruktif dan berpikir tentang bagaimana kita bisa menghadapinya bersama-sama.

 

Membangun Masyarakat yang Resilien dan Berpikir Kritis

 

Efisiensi anggaran, meskipun sering kali terlihat sebagai langkah yang penuh ketidakpastian, dapat menjadi kesempatan untuk menciptakan sistem pengelolaan keuangan yang lebih baik. Namun, untuk itu, kita harus menghadapi ketakutan kolektif ini dengan pemahaman yang mendalam, keterbukaan, dan dialog yang tidak sekadar berfokus pada sisi negatifnya. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya akan mengatasi masalah keuangan negara, tetapi juga dapat memberikan kesempatan untuk membangun masyarakat yang lebih resilien, berpikir kritis, dan mampu menghadapi tantangan bersama.

 

Pada akhirnya, moral panic yang mengelilingi kebijakan efisiensi anggaran harus dihadapi dengan kecerdasan kolektif yang mampu memisahkan antara ketakutan yang tidak berdasar dan pemahaman yang konstruktif. Hanya dengan cara itu, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk negara, tetapi juga untuk kesejahteraan seluruh masyarakat. ***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now