Oleh: Syamsul Kurniawan
DALAM perbincangan tentang pendidikan agama Islam, tidak ada yang lebih
mendasar dan penting selain memeriksa peran guru agama Islam sebagai kekuatan
pendorong dalam menciptakan pendidikan yang jujur, bermartabat, dan penuh
integritas. Sebagai elemen kunci dalam sistem pendidikan, guru agama Islam
tidak hanya berfungsi sebagai pengajar semata, tetapi lebih dari itu, mereka
adalah pembentuk karakter, penjaga nilai, dan pemandu moral bagi generasi muda.
Jika pendidikan agama Islam dapat dipandang sebagai upaya untuk memperkenalkan
nilai-nilai ketuhanan dan kejujuran kepada murid-murid, maka guru agama Islam
berperan krusial dalam menanggulangi ketidakjujuran, baik yang muncul dalam
kehidupan sehari-hari, maupun dalam dunia informasi yang semakin terpecah di
era post-truth.
Crow & Crow (1995), yang dikutip oleh
Sutari Imam Barnadib, menyatakan bahwa guru adalah faktor vital dalam
pendidikan, sebanding dengan peran peserta didik, tujuan pendidikan, instrumen
pendidikan, dan milieu (lingkungan). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa
meskipun pendidikan agama Islam dilaksanakan di sekolah dengan fasilitas yang
memadai, tanpa kehadiran guru agama Islam yang berfungsi dengan baik,
pendidikan agama tersebut akan menjadi tidak efektif. Guru agama Islam memiliki
peran yang tidak hanya terbatas pada pengajaran ajaran agama, tetapi juga
sebagai model kejujuran dan integritas bagi murid-murid mereka. Dengan
demikian, memahami bagaimana guru agama Islam bisa memerangi ketidakjujuran
merupakan langkah penting untuk memastikan pendidikan yang bermakna.
Guru Agama Islam sebagai Teladan
Secara filosofis, guru agama Islam mestinya
memahami bahwa tugas mereka lebih dari sekadar mengajarkan bacaan dan teori
agama. Mengacu pada prinsip progresivisme dalam pendidikan, guru agama Islam
harus mengarahkan murid-muridnya untuk menjadi individu yang berkemajuan. Dalam
hal ini, kejujuran adalah salah satu nilai fundamental yang harus diperkenalkan
dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Tidak ada gunanya mengajarkan agama jika
sang guru tidak dapat menjadi teladan dalam mengaplikasikan ajaran agama secara
jujur dan benar. Kejujuran bukan sekadar kata-kata, tetapi adalah perbuatan
yang harus dicontohkan dalam keseharian, baik dalam konteks pendidikan formal
maupun di luar itu.
Arthur K. Ellis (1986) dalam bukunya Introduction
to the Foundation of Education menekankan bahwa seorang guru haruslah
sabar, fleksibel, kreatif, dan cerdas dalam mendidik. Hal ini tidak hanya
berlaku dalam konteks kurikulum, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai
etika, moral, dan integritas. Guru agama Islam mesti memahami bahwa peran
mereka bukan hanya membekali murid dengan pengetahuan agama, tetapi juga dengan
sikap dan karakter yang mencerminkan ajaran agama Islam itu sendiri. Oleh
karena itu, penting bagi mereka untuk menampilkan keteladanan dalam kejujuran
dan keterbukaan, sehingga murid mereka bisa melihat dan merasakan nilai-nilai
tersebut dalam kehidupan nyata.
Di era post-truth, ketidakjujuran dalam
penyampaian informasi menjadi tantangan yang semakin besar. Dalam konteks ini,
konsep post-truth merujuk pada fenomena di mana fakta objektif lebih
sering dikalahkan oleh opini pribadi atau emosi yang cenderung mengaburkan
kebenaran. Dalam situasi ini, peran guru agama Islam menjadi semakin penting,
karena mereka harus mampu membimbing murid-murid mereka untuk tidak terjerumus
dalam arus informasi yang salah, bias, atau manipulatif.
Di tengah banjir informasi yang tidak selalu
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, guru agama Islam harus menanamkan
nilai kritis kepada murid-muridnya. Mereka harus mengajarkan tentang pentingnya
verifikasi informasi, dan bagaimana menilai kebenaran sebuah informasi
berdasarkan sumber yang sahih dan dapat dipercaya. Dalam hal ini, guru agama
Islam berperan sebagai filter yang membantu murid-muridnya untuk membedakan
antara yang benar dan yang salah, antara informasi yang bermanfaat dan yang
menyesatkan.
Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan
agama Islam di era post-truth adalah bagaimana mengatasi budaya
informasi yang tidak jujur atau bahkan hoaks. Dalam konteks ini, pendidikan
agama Islam memiliki potensi besar untuk mengajarkan tentang kebenaran yang
hakiki dan bagaimana prinsip-prinsip agama dapat menjadi alat untuk menyaring
informasi yang salah. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional (2003), pendidik memiliki tugas untuk melaksanakan proses
pendidikan yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk
karakter dan integritas.
Guru agama Islam perlu memiliki pemahaman yang
mendalam tentang nilai-nilai agama yang terkait dengan kejujuran, sehingga
mereka dapat memberikan panduan moral yang tepat kepada murid-muridnya. Mereka
harus mengajarkan bahwa kebenaran adalah hal yang mutlak dalam agama Islam, dan
tidak ada ruang bagi kebohongan, meskipun dalam situasi yang penuh tekanan. Hal
ini menjadi semakin relevan dalam menghadapi era post-truth, di mana
kebenaran sering kali dikaburkan oleh narasi-narasi yang menyesatkan.
Guru Agama Islam Sebagai Pengawal Etika di
Dunia Digital
Salah satu peran penting guru agama Islam
adalah sebagai pengawal etika dalam dunia digital yang semakin berkembang. Di
era digital, murid-murid tidak hanya dihadapkan pada informasi dari buku atau
pengajaran di kelas, tetapi juga informasi yang datang melalui internet, media
sosial, dan berbagai platform digital lainnya. Di sini, guru agama Islam
memainkan peran yang sangat penting dalam mengajarkan literasi digital yang
berbasis pada prinsip-prinsip moral dan etika agama Islam. Guru agama Islam
harus bisa membimbing murid-muridnya untuk tidak terjebak dalam dunia maya yang
penuh dengan kebohongan, manipulasi, dan penyalahgunaan informasi.
Guru agama Islam harus mengajarkan kepada
murid-muridnya untuk selalu mengecek kebenaran informasi sebelum membagikannya,
serta menghindari penyebaran hoaks atau berita yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam bukan hanya
mengajarkan doa dan ibadah, tetapi juga mengajarkan tentang bagaimana
berperilaku etis di dunia digital yang serba cepat dan mudah terpapar pada
informasi yang tidak benar.
Ketidakjujuran dalam masyarakat sering kali
mencerminkan ketidakmampuan untuk menjalani nilai-nilai moral dan etika yang
diajarkan oleh agama. Guru agama Islam sebagai agen perubahan sosial harus
berperan aktif dalam menanggulangi ketidakjujuran di berbagai tingkat kehidupan
masyarakat. Mereka tidak hanya mendidik murid untuk menjadi pribadi yang jujur
dalam konteks akademik, tetapi juga membentuk karakter murid agar mereka bisa
menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan sosial yang bisa mempengaruhi integritas
mereka.
Ketidakjujuran dalam konteks sosial ini bisa
berwujud dalam banyak bentuk, mulai dari penipuan, manipulasi, korupsi, hingga
penyebaran informasi yang salah. Guru agama Islam perlu menyadarkan
murid-muridnya bahwa setiap tindakan yang tidak jujur adalah pelanggaran
terhadap ajaran agama Islam, yang menekankan pentingnya kejujuran sebagai salah
satu prinsip utama dalam kehidupan manusia. Sebagai pendidik, guru agama Islam
harus memberikan contoh nyata tentang bagaimana hidup dalam kebenaran, meskipun
di tengah tekanan sosial yang mungkin mendorong mereka untuk berlaku
sebaliknya.
Guru Agama Islam dan Upaya Membentuk Karakter
Jujur
Membentuk karakter jujur pada murid-muridnya
merupakan salah satu tujuan utama dari pendidikan agama Islam. Dalam hal ini,
guru agama Islam harus mampu menanamkan pemahaman yang dalam tentang betapa
pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran bukan hanya sekadar
tidak berbohong, tetapi juga berkaitan dengan integritas, komitmen pada
nilai-nilai agama, dan kesadaran moral yang tinggi.
Sebagai contoh, dalam menghadapi fenomena post-truth
yang semakin berkembang, guru agama Islam bisa mengajarkan kepada murid-murid
mereka untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita palsu atau informasi yang
tidak jelas kebenarannya. Melalui pemahaman agama yang benar, murid-murid akan
memiliki filter yang kuat untuk menyaring segala informasi yang datang kepada
mereka.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru
agama Islam memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter dan
integritas murid-muridnya, terutama dalam menghadapi tantangan ketidakjujuran
yang semakin kompleks di era post-truth ini. Guru agama Islam bukan
hanya sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai teladan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan keprofesionalan, keteladanan, dan kebijaksanaan, mereka
dapat menuntun murid-muridnya untuk tetap berjalan di jalan kebenaran dan
kejujuran, meskipun dunia di sekitar mereka mungkin sering kali mengaburkan
batas antara kebenaran dan kebohongan.
Pada akhirnya, pendidikan agama Islam yang
dibimbing oleh guru yang profesional dan berintegritas akan mampu menciptakan
generasi yang tidak hanya cerdas dalam pengetahuan, tetapi juga bijaksana dalam
bertindak dan jujur dalam setiap keputusan yang mereka ambil.***