Iklan

Guru Agama Islam dalam Menanggulangi Ketidakjujuran di Era Post-Truth

syamsul kurniawan
Sunday, March 9, 2025
Last Updated 2025-03-09T09:23:45Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Oleh: Syamsul Kurniawan

 

DALAM perbincangan tentang pendidikan agama Islam, tidak ada yang lebih mendasar dan penting selain memeriksa peran guru agama Islam sebagai kekuatan pendorong dalam menciptakan pendidikan yang jujur, bermartabat, dan penuh integritas. Sebagai elemen kunci dalam sistem pendidikan, guru agama Islam tidak hanya berfungsi sebagai pengajar semata, tetapi lebih dari itu, mereka adalah pembentuk karakter, penjaga nilai, dan pemandu moral bagi generasi muda. Jika pendidikan agama Islam dapat dipandang sebagai upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai ketuhanan dan kejujuran kepada murid-murid, maka guru agama Islam berperan krusial dalam menanggulangi ketidakjujuran, baik yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam dunia informasi yang semakin terpecah di era post-truth.

 

Crow & Crow (1995), yang dikutip oleh Sutari Imam Barnadib, menyatakan bahwa guru adalah faktor vital dalam pendidikan, sebanding dengan peran peserta didik, tujuan pendidikan, instrumen pendidikan, dan milieu (lingkungan). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa meskipun pendidikan agama Islam dilaksanakan di sekolah dengan fasilitas yang memadai, tanpa kehadiran guru agama Islam yang berfungsi dengan baik, pendidikan agama tersebut akan menjadi tidak efektif. Guru agama Islam memiliki peran yang tidak hanya terbatas pada pengajaran ajaran agama, tetapi juga sebagai model kejujuran dan integritas bagi murid-murid mereka. Dengan demikian, memahami bagaimana guru agama Islam bisa memerangi ketidakjujuran merupakan langkah penting untuk memastikan pendidikan yang bermakna.

 

Guru Agama Islam sebagai Teladan

 

Secara filosofis, guru agama Islam mestinya memahami bahwa tugas mereka lebih dari sekadar mengajarkan bacaan dan teori agama. Mengacu pada prinsip progresivisme dalam pendidikan, guru agama Islam harus mengarahkan murid-muridnya untuk menjadi individu yang berkemajuan. Dalam hal ini, kejujuran adalah salah satu nilai fundamental yang harus diperkenalkan dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Tidak ada gunanya mengajarkan agama jika sang guru tidak dapat menjadi teladan dalam mengaplikasikan ajaran agama secara jujur dan benar. Kejujuran bukan sekadar kata-kata, tetapi adalah perbuatan yang harus dicontohkan dalam keseharian, baik dalam konteks pendidikan formal maupun di luar itu.

 

Arthur K. Ellis (1986) dalam bukunya Introduction to the Foundation of Education menekankan bahwa seorang guru haruslah sabar, fleksibel, kreatif, dan cerdas dalam mendidik. Hal ini tidak hanya berlaku dalam konteks kurikulum, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai etika, moral, dan integritas. Guru agama Islam mesti memahami bahwa peran mereka bukan hanya membekali murid dengan pengetahuan agama, tetapi juga dengan sikap dan karakter yang mencerminkan ajaran agama Islam itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk menampilkan keteladanan dalam kejujuran dan keterbukaan, sehingga murid mereka bisa melihat dan merasakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

 

Di era post-truth, ketidakjujuran dalam penyampaian informasi menjadi tantangan yang semakin besar. Dalam konteks ini, konsep post-truth merujuk pada fenomena di mana fakta objektif lebih sering dikalahkan oleh opini pribadi atau emosi yang cenderung mengaburkan kebenaran. Dalam situasi ini, peran guru agama Islam menjadi semakin penting, karena mereka harus mampu membimbing murid-murid mereka untuk tidak terjerumus dalam arus informasi yang salah, bias, atau manipulatif.

 

Di tengah banjir informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, guru agama Islam harus menanamkan nilai kritis kepada murid-muridnya. Mereka harus mengajarkan tentang pentingnya verifikasi informasi, dan bagaimana menilai kebenaran sebuah informasi berdasarkan sumber yang sahih dan dapat dipercaya. Dalam hal ini, guru agama Islam berperan sebagai filter yang membantu murid-muridnya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, antara informasi yang bermanfaat dan yang menyesatkan.

 

Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan agama Islam di era post-truth adalah bagaimana mengatasi budaya informasi yang tidak jujur atau bahkan hoaks. Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam memiliki potensi besar untuk mengajarkan tentang kebenaran yang hakiki dan bagaimana prinsip-prinsip agama dapat menjadi alat untuk menyaring informasi yang salah. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003), pendidik memiliki tugas untuk melaksanakan proses pendidikan yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan integritas.

 

Guru agama Islam perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai agama yang terkait dengan kejujuran, sehingga mereka dapat memberikan panduan moral yang tepat kepada murid-muridnya. Mereka harus mengajarkan bahwa kebenaran adalah hal yang mutlak dalam agama Islam, dan tidak ada ruang bagi kebohongan, meskipun dalam situasi yang penuh tekanan. Hal ini menjadi semakin relevan dalam menghadapi era post-truth, di mana kebenaran sering kali dikaburkan oleh narasi-narasi yang menyesatkan.

 

Guru Agama Islam Sebagai Pengawal Etika di Dunia Digital

 

Salah satu peran penting guru agama Islam adalah sebagai pengawal etika dalam dunia digital yang semakin berkembang. Di era digital, murid-murid tidak hanya dihadapkan pada informasi dari buku atau pengajaran di kelas, tetapi juga informasi yang datang melalui internet, media sosial, dan berbagai platform digital lainnya. Di sini, guru agama Islam memainkan peran yang sangat penting dalam mengajarkan literasi digital yang berbasis pada prinsip-prinsip moral dan etika agama Islam. Guru agama Islam harus bisa membimbing murid-muridnya untuk tidak terjebak dalam dunia maya yang penuh dengan kebohongan, manipulasi, dan penyalahgunaan informasi.

 

Guru agama Islam harus mengajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu mengecek kebenaran informasi sebelum membagikannya, serta menghindari penyebaran hoaks atau berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan doa dan ibadah, tetapi juga mengajarkan tentang bagaimana berperilaku etis di dunia digital yang serba cepat dan mudah terpapar pada informasi yang tidak benar.

 

Ketidakjujuran dalam masyarakat sering kali mencerminkan ketidakmampuan untuk menjalani nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan oleh agama. Guru agama Islam sebagai agen perubahan sosial harus berperan aktif dalam menanggulangi ketidakjujuran di berbagai tingkat kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya mendidik murid untuk menjadi pribadi yang jujur dalam konteks akademik, tetapi juga membentuk karakter murid agar mereka bisa menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan sosial yang bisa mempengaruhi integritas mereka.

 

Ketidakjujuran dalam konteks sosial ini bisa berwujud dalam banyak bentuk, mulai dari penipuan, manipulasi, korupsi, hingga penyebaran informasi yang salah. Guru agama Islam perlu menyadarkan murid-muridnya bahwa setiap tindakan yang tidak jujur adalah pelanggaran terhadap ajaran agama Islam, yang menekankan pentingnya kejujuran sebagai salah satu prinsip utama dalam kehidupan manusia. Sebagai pendidik, guru agama Islam harus memberikan contoh nyata tentang bagaimana hidup dalam kebenaran, meskipun di tengah tekanan sosial yang mungkin mendorong mereka untuk berlaku sebaliknya.

 

Guru Agama Islam dan Upaya Membentuk Karakter Jujur

 

Membentuk karakter jujur pada murid-muridnya merupakan salah satu tujuan utama dari pendidikan agama Islam. Dalam hal ini, guru agama Islam harus mampu menanamkan pemahaman yang dalam tentang betapa pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran bukan hanya sekadar tidak berbohong, tetapi juga berkaitan dengan integritas, komitmen pada nilai-nilai agama, dan kesadaran moral yang tinggi.

 

Sebagai contoh, dalam menghadapi fenomena post-truth yang semakin berkembang, guru agama Islam bisa mengajarkan kepada murid-murid mereka untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita palsu atau informasi yang tidak jelas kebenarannya. Melalui pemahaman agama yang benar, murid-murid akan memiliki filter yang kuat untuk menyaring segala informasi yang datang kepada mereka.

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru agama Islam memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter dan integritas murid-muridnya, terutama dalam menghadapi tantangan ketidakjujuran yang semakin kompleks di era post-truth ini. Guru agama Islam bukan hanya sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keprofesionalan, keteladanan, dan kebijaksanaan, mereka dapat menuntun murid-muridnya untuk tetap berjalan di jalan kebenaran dan kejujuran, meskipun dunia di sekitar mereka mungkin sering kali mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan.

 

Pada akhirnya, pendidikan agama Islam yang dibimbing oleh guru yang profesional dan berintegritas akan mampu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas dalam pengetahuan, tetapi juga bijaksana dalam bertindak dan jujur dalam setiap keputusan yang mereka ambil.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now