Oleh: Syamsul
Kurniawan
Azan Isya’
menggema di langit malam. Suara itu masih sama—jernih dan syahdu—mengalun dari
menara-menara masjid, memanggil umat untuk bersujud, menyelesaikan tarawih di
sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tapi malam ini, dan malam-malam sebelumnya,
masjid tampak lebih lengang dari biasanya. Sajadah-sajadah digelar, tapi tak
sepenuhnya terisi. Sujud-sujud panjang seolah kalah bersaing dengan gemerlap
lampu pusat perbelanjaan. Di sana, manusia berduyun-duyun, bukan mencari Tuhan,
melainkan kain baru—baju Lebaran, yang diyakini bisa menghapus perasaan “tak
cukup” yang entah datang dari mana.
Sebuah ritual
tahunan bernama “berburu baju baru” telah menjadi bagian dari cara kita
merayakan hari besar. Tapi lebih dari itu, ia telah menjadi simbol kebudayaan.
Kita tidak sekadar membeli pakaian. Kita membeli pengakuan. Kita membeli
kehadiran sosial. Kita membeli rasa "berhak" untuk berlebaran.
***
Abraham Maslow,
dalam piramida kebutuhannya, menyusun kehidupan manusia dari dasar yang paling
konkret hingga puncak yang paling abstrak. Mulai dari kebutuhan fisik,
keamanan, cinta dan rasa memiliki, hingga kebutuhan akan harga diri dan
aktualisasi. Ramadhan, setidaknya dalam niatnya, mengajak kita meniti jalan
menuju puncak itu. Sebulan penuh kita diajak untuk menahan, menyederhana, dan
mengakrabi sunyi. Tapi mendekati garis akhir, justru terjadi pembelokan arah:
dari dzikir menuju diskon. Dari sajadah menuju etalase.
Baju baru, pada
titik ini, bukan hanya kebutuhan sandang. Ia telah menjelma lambang status.
Pengakuan bahwa seseorang telah "sukses" menjalani Ramadhan—bukan
karena khatam Al-Qur'an atau karena tangis dalam doa, tapi karena berhasil
membawa pulang satu atau dua stel pakaian bermerk, yang akan dikenakan dengan
bangga di hari raya.
Maslow benar:
kita butuh dihargai, diakui, diterima. Tapi ketika kebutuhan itu dibungkus oleh
logika pasar, maka keinginan menjadi tak terhingga.
Sementara itu, Karl
Marx pernah menulis tentang fetisisme komoditas—bahwa dalam sistem kapitalisme,
manusia tak lagi membeli karena butuh, tapi karena ingin dimaknai. Komoditas
tidak lagi sekadar barang; ia menjelma lambang status, prestise, bahkan
kebahagiaan.
Baju baru adalah
salah satunya. Ia menjadi tiket sosial—masuk ke dalam ruang-ruang perayaan yang
diam-diam menyingkirkan mereka yang tak punya. Kapitalisme, dalam sunyi yang
nyaris tak kita sadari, telah berhasil menjadikan Lebaran sebagai ajang pamer
kelas: siapa yang lebih kinclong, siapa yang lebih mapan, siapa yang tampil
lebih “layak” dirayakan.
Dan yang paling
menyakitkan, kita menikmatinya.
Media massa dan
iklan telah menjalankan tugasnya dengan cemerlang. Dari layar televisi, spanduk
jalanan, hingga notifikasi toko daring, kita dicekoki visualisasi kebahagiaan
yang selalu—dan selalu—terkait dengan barang baru. Keluarga bahagia dalam
sinetron selalu berpakaian rapi, cerah, dan baru. Anak-anak ceria karena dapat
sepatu baru. Orang tua tersenyum puas karena bisa membelikan kemeja untuk sang
suami. Tak ada narasi tentang kebahagiaan dalam doa yang tak bersuara, atau
pelukan yang tulus dalam baju lama.
Marx menyebut
proses ini sebagai bentuk indoktrinasi ideologi dominan. Media tak hanya
memberitakan, ia membentuk cara berpikir. Ia menentukan bagaimana seharusnya
kita merasa bahagia, dan lebih sering, kita menurut.
Namun, akar dari
semua ini, hemat saya, bukan hanya kapitalisme. Ia tumbuh subur karena ada tanah
kesadaran yang rapuh. Kita yang terlalu ingin diterima, yang takut dianggap
“ketinggalan zaman,” yang merasa kurang jika tak punya, telah menjadi lahan
subur bagi budaya konsumtif ini.
Bagi kelas atas,
berburu baju baru adalah kebiasaan yang nyaris otomatis. Bagi kelas menengah ke
bawah, ia adalah tekanan. Tapi tekanan yang diterima dengan senyuman, demi satu
alasan: agar tampak seperti “yang lain.” Maka tak sedikit yang rela berutang,
mencicil, bahkan meminjam hanya untuk tampil “layak” di hari raya.
Ini bukan soal
baju. Ini soal identitas. Soal rasa menjadi bagian dari masyarakat.
***
Dalam dunia yang
dipenuhi simbol, baju baru telah menjadi seragam sosial—penanda bahwa seseorang
telah “lulus” dari bulan suci. Tapi ini lulus yang aneh, karena tolok ukurnya
bukan ketaatan, melainkan penampilan. Baju baru menutupi tubuh, tapi kadang
juga menutupi kegelisahan spiritual yang tak kunjung menemukan jawab. Kita tertawa
di depan kamera, namun lupa bertanya pada diri sendiri: sudahkah aku bertemu
Tuhan di bulan suci ini?
Ramadhan yang
seharusnya mendekatkan kita pada yang Ilahi, justru dirampas pelan-pelan oleh
euforia duniawi. Dan sayangnya, kita membiarkannya. Bahkan mendukungnya.
Kebahagiaan yang
lahir dari konsumsi adalah kebahagiaan yang rapuh. Ia seperti kilau
kaca—terlihat indah, tapi mudah pecah. Kita membeli baju, merasa senang, lalu
esoknya kembali merasa kurang. Karena pasar tidak pernah kehabisan cara untuk
membuat kita merasa tertinggal.
Dan di sisi lain
kota, masjid tetap sepi. Azan tetap menggema, tapi jawabannya datang terlambat,
atau bahkan tak datang sama sekali. Barangkali karena langkah-langkah kaki itu
kini berbelok arah—dari mimbar ke mal, dari mushaf ke mesin kasir.
Pertanyaannya: haruskah
kita menolak baju baru? Tentu tidak. Tapi kita harus sadar: di atas baju
baru itu, ada sesuatu yang harus lebih dahulu kita kenakan—yaitu kesadaran.
Baju baru boleh
menghias tubuh, asal jangan menutupi jiwa. Ia boleh dikenakan untuk menyambut
Idul Fitri, asal tidak menyingkirkan makna fitrah itu sendiri: kembali suci,
jernih, dan sederhana.
Hari-hari
terakhir Ramadhan selalu menyimpan pilihan sunyi. Di satu sisi ada keramaian
pasar yang menyilaukan, di sisi lain ada sajadah yang menunggu disentuh kening.
Kita bisa memilih.
Dan semoga,
dalam riuh rendah kehidupan ini, kita masih bisa mendengar suara yang lebih
lembut dari azan—suara hati yang mengajak pulang. Bukan ke rumah dengan baju
baru, tapi ke masjid yang dulu jadi tempat kita bertemu Tuhan.
Itulah
sebaik-baik Lebaran. Yang tak hanya mengenakan pakaian terbaik, tapi juga
membawa hati yang bersih, ringan, dan pulang dengan damai.***