Iklan

Baju Baru di Atas Sepi Masjid

syamsul kurniawan
Friday, March 21, 2025
Last Updated 2025-03-21T13:27:08Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Azan Isya’ menggema di langit malam. Suara itu masih sama—jernih dan syahdu—mengalun dari menara-menara masjid, memanggil umat untuk bersujud, menyelesaikan tarawih di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tapi malam ini, dan malam-malam sebelumnya, masjid tampak lebih lengang dari biasanya. Sajadah-sajadah digelar, tapi tak sepenuhnya terisi. Sujud-sujud panjang seolah kalah bersaing dengan gemerlap lampu pusat perbelanjaan. Di sana, manusia berduyun-duyun, bukan mencari Tuhan, melainkan kain baru—baju Lebaran, yang diyakini bisa menghapus perasaan “tak cukup” yang entah datang dari mana.

 

Sebuah ritual tahunan bernama “berburu baju baru” telah menjadi bagian dari cara kita merayakan hari besar. Tapi lebih dari itu, ia telah menjadi simbol kebudayaan. Kita tidak sekadar membeli pakaian. Kita membeli pengakuan. Kita membeli kehadiran sosial. Kita membeli rasa "berhak" untuk berlebaran.

 

***

Abraham Maslow, dalam piramida kebutuhannya, menyusun kehidupan manusia dari dasar yang paling konkret hingga puncak yang paling abstrak. Mulai dari kebutuhan fisik, keamanan, cinta dan rasa memiliki, hingga kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi. Ramadhan, setidaknya dalam niatnya, mengajak kita meniti jalan menuju puncak itu. Sebulan penuh kita diajak untuk menahan, menyederhana, dan mengakrabi sunyi. Tapi mendekati garis akhir, justru terjadi pembelokan arah: dari dzikir menuju diskon. Dari sajadah menuju etalase.

 

Baju baru, pada titik ini, bukan hanya kebutuhan sandang. Ia telah menjelma lambang status. Pengakuan bahwa seseorang telah "sukses" menjalani Ramadhan—bukan karena khatam Al-Qur'an atau karena tangis dalam doa, tapi karena berhasil membawa pulang satu atau dua stel pakaian bermerk, yang akan dikenakan dengan bangga di hari raya.

 

Maslow benar: kita butuh dihargai, diakui, diterima. Tapi ketika kebutuhan itu dibungkus oleh logika pasar, maka keinginan menjadi tak terhingga.

 

Sementara itu, Karl Marx pernah menulis tentang fetisisme komoditas—bahwa dalam sistem kapitalisme, manusia tak lagi membeli karena butuh, tapi karena ingin dimaknai. Komoditas tidak lagi sekadar barang; ia menjelma lambang status, prestise, bahkan kebahagiaan.

 

Baju baru adalah salah satunya. Ia menjadi tiket sosial—masuk ke dalam ruang-ruang perayaan yang diam-diam menyingkirkan mereka yang tak punya. Kapitalisme, dalam sunyi yang nyaris tak kita sadari, telah berhasil menjadikan Lebaran sebagai ajang pamer kelas: siapa yang lebih kinclong, siapa yang lebih mapan, siapa yang tampil lebih “layak” dirayakan.

 

Dan yang paling menyakitkan, kita menikmatinya.

 

Media massa dan iklan telah menjalankan tugasnya dengan cemerlang. Dari layar televisi, spanduk jalanan, hingga notifikasi toko daring, kita dicekoki visualisasi kebahagiaan yang selalu—dan selalu—terkait dengan barang baru. Keluarga bahagia dalam sinetron selalu berpakaian rapi, cerah, dan baru. Anak-anak ceria karena dapat sepatu baru. Orang tua tersenyum puas karena bisa membelikan kemeja untuk sang suami. Tak ada narasi tentang kebahagiaan dalam doa yang tak bersuara, atau pelukan yang tulus dalam baju lama.

 

Marx menyebut proses ini sebagai bentuk indoktrinasi ideologi dominan. Media tak hanya memberitakan, ia membentuk cara berpikir. Ia menentukan bagaimana seharusnya kita merasa bahagia, dan lebih sering, kita menurut.

 

Namun, akar dari semua ini, hemat saya, bukan hanya kapitalisme. Ia tumbuh subur karena ada tanah kesadaran yang rapuh. Kita yang terlalu ingin diterima, yang takut dianggap “ketinggalan zaman,” yang merasa kurang jika tak punya, telah menjadi lahan subur bagi budaya konsumtif ini.

 

Bagi kelas atas, berburu baju baru adalah kebiasaan yang nyaris otomatis. Bagi kelas menengah ke bawah, ia adalah tekanan. Tapi tekanan yang diterima dengan senyuman, demi satu alasan: agar tampak seperti “yang lain.” Maka tak sedikit yang rela berutang, mencicil, bahkan meminjam hanya untuk tampil “layak” di hari raya.

 

Ini bukan soal baju. Ini soal identitas. Soal rasa menjadi bagian dari masyarakat.

***

Dalam dunia yang dipenuhi simbol, baju baru telah menjadi seragam sosial—penanda bahwa seseorang telah “lulus” dari bulan suci. Tapi ini lulus yang aneh, karena tolok ukurnya bukan ketaatan, melainkan penampilan. Baju baru menutupi tubuh, tapi kadang juga menutupi kegelisahan spiritual yang tak kunjung menemukan jawab. Kita tertawa di depan kamera, namun lupa bertanya pada diri sendiri: sudahkah aku bertemu Tuhan di bulan suci ini?


Ramadhan yang seharusnya mendekatkan kita pada yang Ilahi, justru dirampas pelan-pelan oleh euforia duniawi. Dan sayangnya, kita membiarkannya. Bahkan mendukungnya.

 

Kebahagiaan yang lahir dari konsumsi adalah kebahagiaan yang rapuh. Ia seperti kilau kaca—terlihat indah, tapi mudah pecah. Kita membeli baju, merasa senang, lalu esoknya kembali merasa kurang. Karena pasar tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kita merasa tertinggal.

 

Dan di sisi lain kota, masjid tetap sepi. Azan tetap menggema, tapi jawabannya datang terlambat, atau bahkan tak datang sama sekali. Barangkali karena langkah-langkah kaki itu kini berbelok arah—dari mimbar ke mal, dari mushaf ke mesin kasir.

 

Pertanyaannya: haruskah kita menolak baju baru? Tentu tidak. Tapi kita harus sadar: di atas baju baru itu, ada sesuatu yang harus lebih dahulu kita kenakan—yaitu kesadaran.

 

Baju baru boleh menghias tubuh, asal jangan menutupi jiwa. Ia boleh dikenakan untuk menyambut Idul Fitri, asal tidak menyingkirkan makna fitrah itu sendiri: kembali suci, jernih, dan sederhana.

 

Hari-hari terakhir Ramadhan selalu menyimpan pilihan sunyi. Di satu sisi ada keramaian pasar yang menyilaukan, di sisi lain ada sajadah yang menunggu disentuh kening. Kita bisa memilih.

 

Dan semoga, dalam riuh rendah kehidupan ini, kita masih bisa mendengar suara yang lebih lembut dari azan—suara hati yang mengajak pulang. Bukan ke rumah dengan baju baru, tapi ke masjid yang dulu jadi tempat kita bertemu Tuhan.

 

Itulah sebaik-baik Lebaran. Yang tak hanya mengenakan pakaian terbaik, tapi juga membawa hati yang bersih, ringan, dan pulang dengan damai.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now