Oleh: Syamsul Kurniawan
KISAH Abu
Nawas adalah sebuah pelajaran berharga tentang kecerdikan dan keadilan. Suatu
ketika, di hadapan seorang raja, Abu Nawas diminta untuk membagikan lima telur
kepada tiga orang di meja makan. Sang raja jelas ingin melihat bagaimana Abu
Nawas, yang terkenal dengan kecerdasannya, akan menyelesaikan tantangan
tersebut. Tanpa ragu, Abu Nawas mulai menghitung. Dia menjelaskan dengan lugas
bahwa jika dia membagi telur secara setara, setiap orang seharusnya mendapatkan
1,67 telur, yang tentu saja tidak mungkin.
Dengan
senyuman lebar, Abu Nawas memecahkan telur pertama, meletakkan isinya dalam
mangkuk untuk orang pertama, lalu memecahkan telur kedua dan membaginya menjadi
dua, memberikan satu setengah telur kepada orang kedua. Untuk orang ketiga, dia
memecahkan telur ketiga dan keempat, memberikannya dalam dua mangkuk. Terakhir,
dia mengambil telur kelima dan bikin sebuah hidangan istimewa yang bisa
dinikmati semua orang. Dari pembagian yang unik ini, semua orang di meja
menikmati hidangan, dan tidak ada yang merasa dirugikan.
Kisah ini
mencerminkan kebijaksanaan Abu Nawas dalam menghadapi tantangan dengan cara
yang adil dan kreatif. Dia menyampaikan pesan penting bahwa keadilan tidak
selalu berarti pembagian yang sama, tetapi pemahaman atas konteks dan status
setiap individu. Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran yang dalam tentang
bagaimana moderasi beragama seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
dinamika kehidupan umat manusia yang beragam, moderasi beragama bukan hanya
sebuah slogan atau jargon, melainkan sebuah praktik yang harus diterapkan dalam
interaksi sehari-hari. Melalui kisah Abu Nawas, terlihat jelas bahwa setiap
tindakan yang dilandasi dengan keadilan, kemanusiaan, dan toleransi dapat
membawa keharmonisan. Dalam konteks ini, kita akan merenungkan makna moderasi
beragama yang dapat dikaitkan dengan sembilan kata kunci penting yang menjadi
dasar pembentukan sikap keagamaan yang rasional.
Kemanusiaan dan Kemaslahatan
Umum: Dasar Moderasi Beragama
Pada
dasarnya, moderasi beragama dimulai dari pengertian akan kemanusiaan. Dalam
berkah kehidupan ini, setiap individu memiliki martabat yang sama, terlepas
dari latar belakang beragama atau budaya. Kemanusiaan ini mendasari bagaimana
kita bersikap terhadap sesama. Dalam konteksnya, kisah Abu Nawas menggambarkan
bagaimana ia berusaha membagikan telur-telurnya dengan cara yang adil, tanpa
mengabaikan siapa pun di meja makan. Ia mengambil langkah seimbang untuk
memastikan setiap orang merasa dihargai dan diperhatikan.
Selanjutnya,
kemaslahatan umum menjadi titik krusial dalam perjalanan menuju moderasi
beragama. Setiap ajaran agama, dalam esensinya, bertujuan untuk membawa
kesejahteraan bagi umat manusia. Dalam kisah Abu Nawas, meskipun hanya lima
telur, tindakan yang diambilnya mengedepankan kepentingan kolektif. Ia tidak
hanya mempertimbangkan siapa yang lebih berhak, tetapi berusaha menciptakan
suasana yang menyenangkan dan menghibur bagi semua. Inilah yang seharusnya
menjadi pendorong kita dalam membangun masyarakat yang menghargai kemaslahatan
bersama.
Adil dan Berimbang: Mewujudkan
Keadilan Dalam Beragama
Keadilan
adalah prinsip fundamental dalam moderasi beragama. Dalam kehidupan
sehari-hari, kita dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk
mengambil keputusan. Abu Nawas menunjukkan kepada kita bahwa keadilan tidak
selalu berarti pembagian yang sama, melainkan pemahaman atas konteks dan
kebutuhan masing-masing individu. Dalam cerita tersebut, ia menggunakan
kecerdikannya untuk membagi telur secara adil dengan cara yang tidak terduga.
Kita perlu
merenungi bahwa berimbang juga merupakan suatu keharusan. Moderasi beragama
mengajak kita untuk tidak hanya melihat dari satu sudut pandang. Dalam kisah
ini, Abu Nawas berhasil menggambarkan pentingnya menyimak berbagai keadaan
ketika membagikan telur. Keberanian untuk mengambil langkah yang bijaksana
inilah yang mencerminkan arti keadilan yang sesungguhnya. Moderasi itu berarti
memahami bahwa ada arbitrasi dalam setiap kebijakan atau tindakan yang kita
ambil, dan ketiga orang di meja tersebut pantas mendapatkan perhatian dan rasa
hormat.
Taat Konstitusi dan Komitmen
Kebangsaan: Mempertahankan Nilai Bersama
Taat
konstitusi menjadi salah satu pilar penting dalam moderasi beragama. Dalam
konteks ini, beragama tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hukum dan
norma sosial yang berlaku. Tawasuth mengingatkan kita bahwa setiap tindakan
harus dilandasi oleh kesadaran hukum dan kesepakatan sosial. Seperti halnya Abu
Nawas yang menegaskan keadilan sambil tetap mematuhi aturan yang ada, kita juga
harus meletakkan agama dalam koridor yang harmonis dengan konstitusi.
Komitmen
kebangsaan adalah nuansa lain yang perlu kita tumbuhkan di tengah sikap moderat
dalam beragama. Dalam kisah Abu Nawas, terdapat pelajaran berharga tentang
pentingnya mengutamakan kepentingan yang lebih besar, yaitu kehidupan sosial
yang damai dan berkelanjutan. Masyarakat yang saling menghargai adalah cerminan
komitmen kita terhadap kebangsaan.
Toleransi dan Anti Kekerasan:
Membangun Hubungan Harmonis
Toleransi
adalah salah satu wajah dari moderasi beragama yang tidak terbantahkan. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita belajar untuk menerima dan menghargai perbedaan.
Kisah Abu Nawas menunjukkan bahwa dalam membagikan, ia bukan hanya
memperhatikan kebutuhan individu, tetapi juga menciptakan suasana yang
menyenangkan bagi semuanya. Toleransi mengajarkan kita bahwa perbedaan adalah
bagian dari kekayaan yang harus dirayakan, bukan dijadikan alasan untuk
berselisih.
Di sisi lain,
moderasi beragama juga tak terlepas dari komitmen untuk anti kekerasan.
Tindakan kekerasan atas nama agama hanya menimbulkan penderitaan dari semua
pihak dan tidak menciptakan solusi. Seperti yang terlihat dalam kecerdikan Abu
Nawas, ia menghindari konflik dan memilih jalan damai untuk mencapai keadilan.
Moderasi beragama mengajak kita untuk menggunakan dialog dan diskusi sebagai
alat resolusi, bukan kekerasan.
Penghormatan Terhadap Tradisi
dan Pembaruan Beragama
Penghormatan
kepada tradisi adalah bagian penting dari moderasi beragama. Tradisi mengakar
pada nilai-nilai budaya yang telah terbentuk dan memberikan makna dalam
kehidupan masyarakat. Namun, penghormatan ini tidak boleh menghalangi inovasi
dan pembaruan. Dalam konteks moderasi, kita diajak untuk memahami tradisi
sebagai landasan sembari membuka diri terhadap perubahan yang positif. Abu
Nawas menggunakan kebijaksanaannya untuk menciptakan solusi cerdas yang
menghargai tradisi tetapi tetap relevan dengan kebutuhan masa kini.
Di sini,
tawasuth dan tawazun memainkan perannya. Sebuah pendekatan yang berimbang
memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan beragama tanpa mengorbankan
nilai-nilai atau terjebak dalam stagnasi. Seperti pembagian telur yang ia
lakukan, Abu Nawas menunjukkan bahwa menghargai tradisi tak harus berarti
menolak perubahan.
Refleksi dan Harapan untuk Masa
Depan yang Moderat
Keseimbangan
dalam beragama, seperti yang diajarkan melalui berbagai prinsip moderasi ini,
menjadi tanggung jawab kita bersama. Saat kita belajar dari kebijaksanaan Abu
Nawas, kita diingatkan untuk tidak hanya mencari kebahagiaan diri sendiri,
tetapi juga memastikan bahwa orang lain di sekitar kita mendapatkan hak mereka.
Ketika setiap orang diberi perhatian, kita menciptakan sebuah ruang yang penuh
toleransi dan saling menghormati.
Dengan
bertoleransi dan mengedepankan kemanusiaan di atas ego kita, moderasi beragama
bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Masyarakat yang mencintai
kedamaian, mengedepankan kemaslahatan, dan menghargai keadilan dapat terbangun
jika kita mau bekerja sama. Dengan semangat memperjuangkan komitmen kebangsaan
dan menghormati konstitusi, kita dapat membangun jembatan yang mempertemukan
perbedaan.
Kita hidup
dalam zaman yang penuh tantangan, di mana ekstremisme dan intoleransi sering
kali mengancam tatanan sosial. Namun, dengan menerapkan prinsip-prinsip
moderasi beragama, kita dapat melawan arus tersebut. Seperti Abu Nawas yang
selalu siap mengambil langkah bijaksana, kita pun harus menjadi pelopor dalam
menyebarkan pesan damai dan toleransi.
Akhirnya,
mari kita jadikan moderasi beragama sebagai nafas baru dalam kehidupan beragama
kita. Marilah kita terus berupaya membangun hubungan yang lebih harmonis,
dengan berbagi kebahagiaan dan saling menghargai, sehingga kedamaian dan
keadilan dapat merajai setiap interaksi kita. Semoga langkah-langkah kecil ini
mampu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan bersama.***