Iklan

Ajian Pengasihan

syamsul kurniawan
Friday, February 14, 2025
Last Updated 2025-02-18T14:10:48Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates



Cerpen: Syamsul Kurniawan


Rahman selalu merasa hidupnya hanyalah bayang-bayang kemiskinan. Sebagai supir angkutan umum, ia terbiasa merasakan lelahnya rutinitas yang tak pernah memberi celah untuk keluar dari jebakan. Setiap hari, ia menatap dunia melalui kaca mobilnya, melihat orang-orang bergerak menuju kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan. Ada rasa haus yang tak terpuaskan, keinginan untuk mengubah nasib, untuk melarikan diri dari penderitaan yang selalu mengintainya.


Suatu malam, usai menjalani rutinitas yang membosankan, Rahman mendengar cerita dari seorang penumpang tentang Gunung Kawi. Di sana, katanya, ada seorang lelaki tua yang bisa memberikan ajian pengasihan—sebuah ilmu hitam yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta padamu, dan ilmu kebal senjata yang menjadikan pemiliknya tak terjamah oleh kematian. Tiba-tiba, ada secercah harapan dalam hati Rahman. “Ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan,” pikirnya. Dengan ajian itu, ia percaya bisa meraih kehidupan yang layak, keluar dari kekurangan, dan menempati tempat yang seharusnya di dunia.


Dengan tekad bulat, Rahman menempuh perjalanan panjang menuju Gunung Kawi. Di sana, ia bertemu dengan lelaki tua misterius yang memberikan ilmu yang diminta—ajian pengasihan yang bisa memikat hati siapa saja, dan ilmu kebal yang membuatnya tak terkalahkan. Rahman merasa dirinya tak tergoyahkan oleh apapun, seperti raja yang bisa menaklukkan dunia. Ia memulai hidup baru, memikat wanita-wanita kaya dan sukses, menikmati kemewahan yang dulu hanya ada dalam impian.


Namun, di balik gemerlap kehidupan yang baru, Rahman merasakan sesuatu yang kosong. Cinta yang didapatkannya terasa hampa, seperti cawan yang tak pernah terisi penuh. Ia merasa terperangkap dalam ilmunya sendiri—semakin mendalam, semakin gelap. Ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya, sebuah kekuatan gelap yang perlahan menguasai hidupnya. Ia mulai merindukan kejujuran, kehangatan yang nyata, tapi itu sudah terlambat.

***


Hidup Rahman berlanjut hingga ia bertemu Sari, seorang wanita muda yang dikenalkan oleh Yusuf, pembantunya yang sudah cukup lama bekerja di rumah Rahman. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Yusuf memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Sari. Yusuf adalah ponakan dari Sari—gadis yang kini menjadi pemicu kemelut baru dalam hidup Rahman. Sari bukan hanya sekadar wanita muda yang ingin mencoba peruntungan dalam hidup, dia menyimpan dendam yang dalam terhadap Rahman. Dendam yang diturunkan oleh kakaknya yang pertama, Ita, yang dulu menjadi istri Rahman.


Istri pertama Rahman—kakak dari Sari—merasa dihancurkan oleh pengkhianatan Rahman. Keputusasaan yang mendalam membuatnya mengakhiri hidupnya sendiri, meninggalkan luka mendalam di hati Sari. Yusuf, yang mendengar seluruh penderitaan yang dialami bibinya dari Sari, dan kini ia menjadi bagian dari rencana balas dendam yang lebih besar. Sari, dengan bantuan Yusuf, memutuskan untuk menjebak Rahman dalam perangkap yang lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.


Sari akhirnya menikahi Rahman dengan satu syarat: ia harus menceraikan tiga istri yang pernah dimilikinya. Rahman, yang terbuai dalam cinta yang seolah datang tanpa hambatan, memenuhi permintaan itu. Ia merasa, dengan Sari, ia akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicari. Tanpa tahu, cinta yang ia rasakan bukanlah cinta murni, melainkan bagian dari rencana yang lebih besar—sebuah rencana balas dendam yang tak pernah ia bayangkan.

***


Sari semakin mendekati Rahman dengan hati-hati. Setiap langkahnya direncanakan dengan teliti. Di balik senyum manisnya, ia memutar takdir dengan tangan yang tak tampak. Yusuf, yang selalu berada di belakang layar, juga terlibat dalam setiap langkah Sari. Mereka berbicara dalam bisikan di malam hari, merencanakan bagaimana Rahman akan merasakan setiap rasa sakit yang pernah ia berikan pada keluarga mereka.


"Rahman," kata Sari suatu malam saat mereka duduk bersama di taman yang sepi. "Apa yang kau rasakan sekarang? Apakah kebahagiaan yang kau cari sudah terwujud?"


Rahman menatapnya dengan kebingungan. "Tentu saja, aku bahagia. Aku punya segalanya—wanita, kekayaan—semuanya yang dulu tak pernah kupikirkan."


Sari tersenyum kecil, namun senyumnya penuh makna, jauh dari kebahagiaan sejati. "Kau tak tahu apa yang sebenarnya kau ambil, Rahman. Kadang, yang kita inginkan justru membawa kita pada kehancuran."


"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Rahman, suaranya mulai bergetar.


Sari menatap langit malam yang kelam. "Karena kita harus membayar harga untuk semua yang telah kita ambil dari orang lain."


Rahman masih bingung, namun sedikit demi sedikit, ia mulai merasakan ketegangan di udara malam itu. Ia tak tahu bahwa Sari adalah adik dari istri pertama yang pernah ia tinggalkan, Ita. Kakak Sari, yang mati karena kesedihan dan pengkhianatan Rahman, kini hidup kembali dalam diri adiknya. Sari tahu bahwa untuk mendapatkan keadilan, ia harus membuat Rahman merasakan apa yang telah ia buat kepada kakaknya—dan lebih dari itu, ia harus membuat Rahman menderita, merasakan setiap tetes air mata yang pernah ditumpahkan kakaknya.

***


Pada malam hujan yang lebat, saat tubuh Rahman mulai terasa lelah, ia merasakan ada yang berbeda. Ada sesuatu yang tak biasa dalam dirinya, seolah ada kekuatan yang mengalir keluar dari tubuhnya. Ketika ia melihat Sari, ada sesuatu yang mengganggu perasaannya, namun ia tak tahu apa itu. Sari, dengan senyum dinginnya, mendekatinya.


Tiba-tiba, Sari menatap Rahman dengan tajam, seperti sebuah guntur yang siap mengenangkannya. Dengan gerak yang cepat dan tanpa ampun, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku jaketnya, sebuah senjata yang biasanya tidak terlihat, namun di tangan Sari, ia menjadi sebuah alat kejahatan. Sari mencongkel kuku jari manis Rahman, dan darah segar mengalir seperti air yang mengalir ke dalam sebuah parit. Sementara itu, ia meneteskan jeruk nipis ke atas kuku yang terluka, sembari merapal mantra yang misterius, sebuah ritual dalam dunia hitam yang tak diketahui Rahman, kecuali Sari, yang telah mempelajari sihir hitam dari seorang dukun di suatu desa terpencil di Jawa Barat, sebelum ia menikah dengan Rahman.


Tubuh Rahman mulai melemah. "Sari, apa yang kau lakukan?" tanyanya, suaranya bergetar.


Sari hanya tersenyum, namun senyum itu bukanlah senyum kemenangan. "Aku melakukan apa yang pantas, Rahman," jawabnya dengan suara penuh kelegaan. "Kau telah membuat kakakku mati. Sekarang, kau akan merasakannya."


Dengan gerakan cepat, Sari menusukkan pisau tepat di dada kiri Rahman. Rahman yang kebal senjata, yang merasa tak terkalahkan, kini merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan—kematian bukan dari ilmu yang dia pelajari, melainkan dari takdir yang datang terlambat. Jantungnya berhenti berdetak, namun bukan karena kekuatan yang melindunginya, melainkan karena pengkhianatan yang tak bisa ia hindari.


Rahman terjatuh, wajahnya penuh kebingungan dan penyesalan. Ia tak pernah tahu bahwa Sari—gadis yang ia kira cinta sejatinya—adalah bagian dari rencana balas dendam yang jauh lebih besar dari apa yang bisa ia bayangkan.


Sari menatap tubuh Rahman yang tergeletak, lalu berbisik, "Ini bukan tentang cinta. Ini tentang keadilan. Dan keadilan datang dengan cara yang tak terduga."


Jasad Rahman dikubur di taman belakang rumah, tepat di bawah pohon jambu yang dulu pernah ia sukai. Dengan langkah tenang, Sari meninggalkan tempat itu, meninggalkan Rahman dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

***


Beberapa minggu kemudian, pada malam Jumat Kliwon yang dingin, Sari merasakan sesuatu yang tak biasa. Suara samar terdengar, memanggil namanya dari balik jendela kamarnya. Ketakutan menggelayuti tubuhnya saat ia membuka jendela, dan di sana, di depan matanya, terlihat Rahman—berlumuran darah. Dengan tatapan kosong, Rahman mengajaknya untuk ikut bersamanya, menemani dirinya di kubur.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now