Cerpen: Syamsul Kurniawan
Rahman selalu merasa hidupnya hanyalah
bayang-bayang kemiskinan. Sebagai supir angkutan umum, ia terbiasa merasakan
lelahnya rutinitas yang tak pernah memberi celah untuk keluar dari jebakan.
Setiap hari, ia menatap dunia melalui kaca mobilnya, melihat orang-orang
bergerak menuju kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan. Ada rasa haus yang tak
terpuaskan, keinginan untuk mengubah nasib, untuk melarikan diri dari
penderitaan yang selalu mengintainya.
Suatu malam, usai menjalani rutinitas yang
membosankan, Rahman mendengar cerita dari seorang penumpang tentang Gunung
Kawi. Di sana, katanya, ada seorang lelaki tua yang bisa memberikan ajian
pengasihan—sebuah ilmu hitam yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta padamu,
dan ilmu kebal senjata yang menjadikan pemiliknya tak terjamah oleh kematian.
Tiba-tiba, ada secercah harapan dalam hati Rahman. “Ini kesempatan yang tak
boleh dilewatkan,” pikirnya. Dengan ajian itu, ia percaya bisa meraih kehidupan
yang layak, keluar dari kekurangan, dan menempati tempat yang seharusnya di
dunia.
Dengan tekad bulat, Rahman menempuh perjalanan
panjang menuju Gunung Kawi. Di sana, ia bertemu dengan lelaki tua misterius
yang memberikan ilmu yang diminta—ajian pengasihan yang bisa memikat hati siapa
saja, dan ilmu kebal yang membuatnya tak terkalahkan. Rahman merasa dirinya tak
tergoyahkan oleh apapun, seperti raja yang bisa menaklukkan dunia. Ia memulai
hidup baru, memikat wanita-wanita kaya dan sukses, menikmati kemewahan yang
dulu hanya ada dalam impian.
Namun, di balik gemerlap kehidupan yang baru,
Rahman merasakan sesuatu yang kosong. Cinta yang didapatkannya terasa hampa,
seperti cawan yang tak pernah terisi penuh. Ia merasa terperangkap dalam
ilmunya sendiri—semakin mendalam, semakin gelap. Ada sesuatu yang tak beres
dalam dirinya, sebuah kekuatan gelap yang perlahan menguasai hidupnya. Ia mulai
merindukan kejujuran, kehangatan yang nyata, tapi itu sudah terlambat.
***
Hidup Rahman berlanjut hingga ia bertemu Sari,
seorang wanita muda yang dikenalkan oleh Yusuf, pembantunya yang sudah cukup
lama bekerja di rumah Rahman. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Yusuf memiliki
hubungan yang lebih dalam dengan Sari. Yusuf adalah ponakan dari Sari—gadis
yang kini menjadi pemicu kemelut baru dalam hidup Rahman. Sari bukan hanya
sekadar wanita muda yang ingin mencoba peruntungan dalam hidup, dia menyimpan
dendam yang dalam terhadap Rahman. Dendam yang diturunkan oleh kakaknya yang
pertama, Ita, yang dulu menjadi istri Rahman.
Istri pertama Rahman—kakak dari Sari—merasa
dihancurkan oleh pengkhianatan Rahman. Keputusasaan yang mendalam membuatnya
mengakhiri hidupnya sendiri, meninggalkan luka mendalam di hati Sari. Yusuf, yang
mendengar seluruh penderitaan yang dialami bibinya dari Sari, dan kini ia
menjadi bagian dari rencana balas dendam yang lebih besar. Sari, dengan bantuan
Yusuf, memutuskan untuk menjebak Rahman dalam perangkap yang lebih dalam dari
yang pernah ia bayangkan.
Sari akhirnya menikahi Rahman dengan satu
syarat: ia harus menceraikan tiga istri yang pernah dimilikinya. Rahman, yang
terbuai dalam cinta yang seolah datang tanpa hambatan, memenuhi permintaan itu.
Ia merasa, dengan Sari, ia akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang selama ini
dicari. Tanpa tahu, cinta yang ia rasakan bukanlah cinta murni, melainkan
bagian dari rencana yang lebih besar—sebuah rencana balas dendam yang tak
pernah ia bayangkan.
***
Sari semakin mendekati Rahman dengan
hati-hati. Setiap langkahnya direncanakan dengan teliti. Di balik senyum
manisnya, ia memutar takdir dengan tangan yang tak tampak. Yusuf, yang selalu
berada di belakang layar, juga terlibat dalam setiap langkah Sari. Mereka
berbicara dalam bisikan di malam hari, merencanakan bagaimana Rahman akan
merasakan setiap rasa sakit yang pernah ia berikan pada keluarga mereka.
"Rahman," kata Sari suatu malam saat
mereka duduk bersama di taman yang sepi. "Apa yang kau rasakan sekarang?
Apakah kebahagiaan yang kau cari sudah terwujud?"
Rahman menatapnya dengan kebingungan.
"Tentu saja, aku bahagia. Aku punya segalanya—wanita, kekayaan—semuanya
yang dulu tak pernah kupikirkan."
Sari tersenyum kecil, namun senyumnya penuh
makna, jauh dari kebahagiaan sejati. "Kau tak tahu apa yang sebenarnya kau
ambil, Rahman. Kadang, yang kita inginkan justru membawa kita pada
kehancuran."
"Kenapa kau berkata begitu?" tanya
Rahman, suaranya mulai bergetar.
Sari menatap langit malam yang kelam.
"Karena kita harus membayar harga untuk semua yang telah kita ambil dari
orang lain."
Rahman masih bingung, namun sedikit demi
sedikit, ia mulai merasakan ketegangan di udara malam itu. Ia tak tahu bahwa
Sari adalah adik dari istri pertama yang pernah ia tinggalkan, Ita. Kakak Sari,
yang mati karena kesedihan dan pengkhianatan Rahman, kini hidup kembali dalam
diri adiknya. Sari tahu bahwa untuk mendapatkan keadilan, ia harus membuat
Rahman merasakan apa yang telah ia buat kepada kakaknya—dan lebih dari itu, ia
harus membuat Rahman menderita, merasakan setiap tetes air mata yang pernah
ditumpahkan kakaknya.
***
Pada malam hujan yang lebat, saat tubuh Rahman
mulai terasa lelah, ia merasakan ada yang berbeda. Ada sesuatu yang tak biasa
dalam dirinya, seolah ada kekuatan yang mengalir keluar dari tubuhnya. Ketika
ia melihat Sari, ada sesuatu yang mengganggu perasaannya, namun ia tak tahu apa
itu. Sari, dengan senyum dinginnya, mendekatinya.
Tiba-tiba, Sari menatap Rahman dengan tajam, seperti sebuah guntur yang siap mengenangkannya. Dengan gerak yang cepat dan tanpa ampun, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku jaketnya, sebuah senjata yang biasanya tidak terlihat, namun di tangan Sari, ia menjadi sebuah alat kejahatan. Sari mencongkel kuku jari manis Rahman, dan darah segar mengalir seperti air yang mengalir ke dalam sebuah parit. Sementara itu, ia meneteskan jeruk nipis ke atas kuku yang terluka, sembari merapal mantra yang misterius, sebuah ritual dalam dunia hitam yang tak diketahui Rahman, kecuali Sari, yang telah mempelajari sihir hitam dari seorang dukun di suatu desa terpencil di Jawa Barat, sebelum ia menikah dengan Rahman.
Tubuh Rahman mulai melemah. "Sari, apa yang kau lakukan?" tanyanya, suaranya bergetar.
Sari hanya tersenyum, namun senyum itu
bukanlah senyum kemenangan. "Aku melakukan apa yang pantas, Rahman,"
jawabnya dengan suara penuh kelegaan. "Kau telah membuat kakakku mati.
Sekarang, kau akan merasakannya."
Dengan gerakan cepat, Sari menusukkan pisau
tepat di dada kiri Rahman. Rahman yang kebal senjata, yang merasa tak
terkalahkan, kini merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan—kematian bukan
dari ilmu yang dia pelajari, melainkan dari takdir yang datang terlambat.
Jantungnya berhenti berdetak, namun bukan karena kekuatan yang melindunginya,
melainkan karena pengkhianatan yang tak bisa ia hindari.
Rahman terjatuh, wajahnya penuh kebingungan
dan penyesalan. Ia tak pernah tahu bahwa Sari—gadis yang ia kira cinta
sejatinya—adalah bagian dari rencana balas dendam yang jauh lebih besar dari
apa yang bisa ia bayangkan.
Sari menatap tubuh Rahman yang tergeletak,
lalu berbisik, "Ini bukan tentang cinta. Ini tentang keadilan. Dan
keadilan datang dengan cara yang tak terduga."
Jasad Rahman dikubur di taman belakang rumah,
tepat di bawah pohon jambu yang dulu pernah ia sukai. Dengan langkah tenang,
Sari meninggalkan tempat itu, meninggalkan Rahman dalam kegelapan yang ia
ciptakan sendiri.
***
Beberapa minggu kemudian, pada malam Jumat
Kliwon yang dingin, Sari merasakan sesuatu yang tak biasa. Suara samar
terdengar, memanggil namanya dari balik jendela kamarnya. Ketakutan
menggelayuti tubuhnya saat ia membuka jendela, dan di sana, di depan matanya,
terlihat Rahman—berlumuran darah. Dengan tatapan kosong, Rahman mengajaknya
untuk ikut bersamanya, menemani dirinya di kubur.***