![]() |
Ilustrasi (Sumber: Meta AI) |
Cerpen: Syamsul Kurniawan
Hujan deras mengguyur atap rumah Saiful, menciptakan suasana
suram yang menyelimuti hatinya. Di dalam ruangan yang gelap, Saiful duduk
terbenam dalam lamunan, menggenggam pecahan figura foto yang tergeletak di
meja. Kaca yang retak itu memantulkan bayangan samar senyumnya bersama Balqis,
istrinya. "Seharusnya kita masih bersama, Balqis," bisiknya, suara
penuh kesedihan.
“Tapi di mana kau?” Seolah suara itu melayang dari kenangan
yang indah, meneguk harapan Saiful yang semakin menipis.
Tahun lalu, segala sesuatu terenggut dalam sekejap oleh
kekejaman. Saat itu, Balqis berusaha melindunginya dari pria berseragam militer
yang datang membara, mencari Saiful karena masalah hukuman di sekolah. Dalam
ketegangan itu, Saiful mendengar suara tembakan dan terdiam.
"Balqis!" teriaknya penuh kepanikan saat melihat tubuh istrinya
jatuh, matanya yang penuh cinta memudar.
Ketika Saiful melangkah maju, suara tembakan ketiga
terdengar. "Kau harus membayar, kau pengajar yang brengsek!" teriak
pria itu, matanya meluap dengan kebencian. Dalam hati Saiful, rasa takut
bertransformasi jadi kemarahan yang membara. “Sia-sia! Ini bukan cara yang
benar!” Ia berusaha meraih pistol, tetapi secepatnya, pria itu mengalihkan
pandangan dan menyerang.
Dalam film laga yang seharusnya hanya terdapat di imajinasi,
Saiful mendapati dirinya bertarung dalam putaran gelap. Pecahan figura yang
terjatuh di atas lantai bersinar dengan dingin, dan ia menggunakan potongan itu
sebagai pertahanan terakhirnya, berusaha menusukkannya ke arah lawan. "Kau
tidak bisa melakukan ini!" teriaknya, hatinya dipenuhi kepedihan. Namun,
pria itu berbalik dan dengan kejam mengakhiri perlawanan yang tak seharusnya
terjadi.
*****
Setahun kemudian, bisikan tentang kematian Saiful, seorang
guru di sekolah, beredar di kalangan siswa baru, mengubah kenangan tragis
menjadi mitos yang menakutkan. Di malam gelap, geng anak-anak pembuli merancang
skenario untuk mengintimidasi, menggunakan nama Saiful sebagai senjata. Mereka
tertawa di angin malam, “Ceritakan pada mereka, Pak Saiful akan kembali dengan
pecahan kaca di lehernya!”
"Kau yakin mereka takut?", salah satu dari mereka
bertanya, menyeringai. "Atau hanya takut pada bayanganku yang
menyentuh?"
Namun, malam-malam setelah itu, mereka merasakan ketakutan
tak terduga. Suara gemerisik, bayangan melintas di lorong, dan tiduran mereka
dipenuhi rasa cemas. "Apa ini? Hanya trik atau...?", bisik salah satu
dari mereka, wajahnya pucat.
Ternyata, Saiful benar-benar ada dalam bentuk yang lebih
halus.
Amir, siswa pindahan yang memiliki kemampuan indigo,
merasakan kekuatan lain yang terhubung dengan misteri kematian Saiful. "Ada
sesuatu di sini," ujarnya kepada sahabatnya, Nita. "Aku bisa
merasakan energi yang kuat... sepertinya Pak Saiful ingin berbicara."
Amir memulai penyelidikan, menemukan kembali pecahan figura
yang menjadi saksi bisu tragedi. “Dia tidak bisa pergi,” Amir berbisik, menatap
pecahan itu seakan mangangkat beban rasa sakit. "Ini petunjuk."
Bersama teman-temannya, Amir mengungkap bahwa anak dari pria
pembuli adalah dalang di balik cerita menakut-nakuti. “Bisa jadi, ini
pembalasan,” terang Amir, menatap mata Nita dengan berani. "Kita harus
menjelaskan kebenarannya kepada semua orang."
Setelah berjuang, akhirnya kebenaran terungkap, dan anak
itu, yang selama ini mengintimidasi, mendapatkan sanksi atas perbuatannya.
Kematian Saiful dan Balqis terkuak bukan akibat kondisi rumah tangga, tetapi
akibat kejahatan. Pelakunya pun berhasil ditangkap dan menerima sanksi atas
kejahatannya.
*****
Setelah segalanya terungkap, suasana sekolah berubah. Tak
ada lagi rasa takut, melainkan rasa hormat dan kehilangan. “Pak Saiful bukan
hantu,” kata seorang siswa, dengan suara bergetar. “Dia adalah pelindung, guru
sejati yang tidak pernah pergi.”
Kini, setiap kali siswa-siswa berdebat atau merundung,
mereka teringat pada gurunya, Saiful. “Ia mengajarkan kita untuk saling
menghormati,” tutur Nita, dengan mata bercahaya. “Ia ada di sini, dalam
mengingat kita.”
Di setiap sudut sekolah, nama Saiful terus dihormati.
Suaranya seakan terngiang, mengingatkan mereka akan tanggung jawab dan cinta.
Mereka tahu bahwa setiap tindakan akan meninggalkan jejak, baik atau buruk.
“Pak Saiful adalah guru yang mengajarkan kami bukan untuk
takut, tetapi untuk berjuang melawan ketidakadilan,” ucap Amir, menatap pecahan
kaca yang kini sudah tidak lagi berbahaya, tetapi menjadi simbol keberanian.
Sekolah yang tadinya terperangkap dalam ketakutan kini
dipenuhi solidaritas. Saiful, dalam bentuknya yang abadi, terus melindungi
mereka, menjaga mereka dari segala bentuk kejahatan. Dan saat butir hujan
pertama mengingatkan mereka pada sang guru, mereka tahu bahwa cinta itu tidak
pernah mati.
Di titik ini, cerita Saiful tidak akan pernah berakhir. "Dia
akan selalu ada di sini," mereka berbisik, mengingat betapa pentingnya
untuk saling mencintai dan mendukung dalam setiap langkah menuju masa depan
yang lebih baik.***