Iklan

Pecahan Figura

syamsul kurniawan
Friday, January 24, 2025
Last Updated 2025-03-06T11:31:50Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Ilustrasi (Sumber: Meta AI)


Cerpen: Syamsul Kurniawan

 

Hujan deras mengguyur atap rumah Saiful, menciptakan suasana suram yang menyelimuti hatinya. Di dalam ruangan yang gelap, Saiful duduk terbenam dalam lamunan, menggenggam pecahan figura foto yang tergeletak di meja. Kaca yang retak itu memantulkan bayangan samar senyumnya bersama Balqis, istrinya. "Seharusnya kita masih bersama, Balqis," bisiknya, suara penuh kesedihan.

 

“Tapi di mana kau?” Seolah suara itu melayang dari kenangan yang indah, meneguk harapan Saiful yang semakin menipis.

 

Tahun lalu, segala sesuatu terenggut dalam sekejap oleh kekejaman. Saat itu, Balqis berusaha melindunginya dari pria berseragam militer yang datang membara, mencari Saiful karena masalah hukuman di sekolah. Dalam ketegangan itu, Saiful mendengar suara tembakan dan terdiam. "Balqis!" teriaknya penuh kepanikan saat melihat tubuh istrinya jatuh, matanya yang penuh cinta memudar.

 

Ketika Saiful melangkah maju, suara tembakan ketiga terdengar. "Kau harus membayar, kau pengajar yang brengsek!" teriak pria itu, matanya meluap dengan kebencian. Dalam hati Saiful, rasa takut bertransformasi jadi kemarahan yang membara. “Sia-sia! Ini bukan cara yang benar!” Ia berusaha meraih pistol, tetapi secepatnya, pria itu mengalihkan pandangan dan menyerang.

 

Dalam film laga yang seharusnya hanya terdapat di imajinasi, Saiful mendapati dirinya bertarung dalam putaran gelap. Pecahan figura yang terjatuh di atas lantai bersinar dengan dingin, dan ia menggunakan potongan itu sebagai pertahanan terakhirnya, berusaha menusukkannya ke arah lawan. "Kau tidak bisa melakukan ini!" teriaknya, hatinya dipenuhi kepedihan. Namun, pria itu berbalik dan dengan kejam mengakhiri perlawanan yang tak seharusnya terjadi.

 

*****

 

Setahun kemudian, bisikan tentang kematian Saiful, seorang guru di sekolah, beredar di kalangan siswa baru, mengubah kenangan tragis menjadi mitos yang menakutkan. Di malam gelap, geng anak-anak pembuli merancang skenario untuk mengintimidasi, menggunakan nama Saiful sebagai senjata. Mereka tertawa di angin malam, “Ceritakan pada mereka, Pak Saiful akan kembali dengan pecahan kaca di lehernya!”

 

"Kau yakin mereka takut?", salah satu dari mereka bertanya, menyeringai. "Atau hanya takut pada bayanganku yang menyentuh?"

 

Namun, malam-malam setelah itu, mereka merasakan ketakutan tak terduga. Suara gemerisik, bayangan melintas di lorong, dan tiduran mereka dipenuhi rasa cemas. "Apa ini? Hanya trik atau...?", bisik salah satu dari mereka, wajahnya pucat.

 

Ternyata, Saiful benar-benar ada dalam bentuk yang lebih halus.

 

Amir, siswa pindahan yang memiliki kemampuan indigo, merasakan kekuatan lain yang terhubung dengan misteri kematian Saiful. "Ada sesuatu di sini," ujarnya kepada sahabatnya, Nita. "Aku bisa merasakan energi yang kuat... sepertinya Pak Saiful ingin berbicara."

 

Amir memulai penyelidikan, menemukan kembali pecahan figura yang menjadi saksi bisu tragedi. “Dia tidak bisa pergi,” Amir berbisik, menatap pecahan itu seakan mangangkat beban rasa sakit. "Ini petunjuk."

 

Bersama teman-temannya, Amir mengungkap bahwa anak dari pria pembuli adalah dalang di balik cerita menakut-nakuti. “Bisa jadi, ini pembalasan,” terang Amir, menatap mata Nita dengan berani. "Kita harus menjelaskan kebenarannya kepada semua orang."

 

Setelah berjuang, akhirnya kebenaran terungkap, dan anak itu, yang selama ini mengintimidasi, mendapatkan sanksi atas perbuatannya. Kematian Saiful dan Balqis terkuak bukan akibat kondisi rumah tangga, tetapi akibat kejahatan. Pelakunya pun berhasil ditangkap dan menerima sanksi atas kejahatannya.

 

*****

 

Setelah segalanya terungkap, suasana sekolah berubah. Tak ada lagi rasa takut, melainkan rasa hormat dan kehilangan. “Pak Saiful bukan hantu,” kata seorang siswa, dengan suara bergetar. “Dia adalah pelindung, guru sejati yang tidak pernah pergi.”

 

Kini, setiap kali siswa-siswa berdebat atau merundung, mereka teringat pada gurunya, Saiful. “Ia mengajarkan kita untuk saling menghormati,” tutur Nita, dengan mata bercahaya. “Ia ada di sini, dalam mengingat kita.”

 

Di setiap sudut sekolah, nama Saiful terus dihormati. Suaranya seakan terngiang, mengingatkan mereka akan tanggung jawab dan cinta. Mereka tahu bahwa setiap tindakan akan meninggalkan jejak, baik atau buruk.

 

“Pak Saiful adalah guru yang mengajarkan kami bukan untuk takut, tetapi untuk berjuang melawan ketidakadilan,” ucap Amir, menatap pecahan kaca yang kini sudah tidak lagi berbahaya, tetapi menjadi simbol keberanian.

 

Sekolah yang tadinya terperangkap dalam ketakutan kini dipenuhi solidaritas. Saiful, dalam bentuknya yang abadi, terus melindungi mereka, menjaga mereka dari segala bentuk kejahatan. Dan saat butir hujan pertama mengingatkan mereka pada sang guru, mereka tahu bahwa cinta itu tidak pernah mati.

 

Di titik ini, cerita Saiful tidak akan pernah berakhir. "Dia akan selalu ada di sini," mereka berbisik, mengingat betapa pentingnya untuk saling mencintai dan mendukung dalam setiap langkah menuju masa depan yang lebih baik.***


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now